Surat Masuk | Mari Bangun Samosir
Boa-Boa | 389 Views February 14th, 2008Ully Sinaga
Salam,
Saya salah satu karyawan di sebuah hotel yang ada di Langkawi Island, Malaysia.
Langkawi Island adalah salah stu pulau yang ada di Malaysia, sama seperti pulau Samosir (Samosir Island) hanya saja perbedaannya, Langkawi dikelilingi oleh laut sedangkan Samosir dikelilingi oleh danau. Tapi kalau saya selidiki jauh lebih indah Samosir daripada Langkawi. Akan tetapi Langkawi lebih dikenal oleh turis Eropa bahkan seluruh dunia dan jika saya berkomunikasi dengan beberapa turis yang ada, mereka tidak mengenal Bali meskipun Bali merupakan pusat pariwisata no 1 di Indonesia.
Why? Karena pemerintah Malaysia sangat memperhatikan pulau ini dan sebelum pulau ini dibangun,
Pertama sekali, pemerintah sudah menetapkan pembebasan pajak atas Pulau Langkawi guna sebagai tempat pariwisata. Artinya meskipun tempat ini nantinya akan ramai dikunjungi oleh para turis, namun pemerintah juga menetapkan harga yang sangat terjangkau dalam bidang usaha penjualan apa saja tanpa ada perbedaan harga turis dengan penduduk setempat.
Yang kedua, Fasilitas.
Fasilitas utama yang sangat diperhatikan oleh pemerintah adalah membangun jalan. Jalan-jalan dipulau ini sangaaat-sangat bagus dan lebah meskipun berbukit-bukit, tapi jalan tersebut sangat mulus, bahkan pemerintah menyediakan pipa-pipa aliran air sampai mengelilingi Pulau tersebut. Coba saudara-saudara bayangkan pulau ini seperti Pulau Samosir!!
Dengan adanya transportasi yang baik sehingga membuat banyak orang-orang asing menanam saham mereka untuk membangun perhotelan yang ada di Langkawi bahkan pengusaha dari Jerman, menanam saham mereka untuk pembangunan “Cable Car” yang ketinggiannya sampai 700 km dari dasar laut dan tempat ini menjadi salah satu kunjungan terfavorit bagi para turis seluruh dunia untuk Langkawi Island. Pulau ini juga dikenal sebagai tempat syuting perfilman Bollywood India, dan menjadi tempat rutin (setiap tahun) untuk pertunjukan pesawat tempur se Asean.
Waah! Kapan yaa Samosir bisa menjadi tempat terfavorit di seluruh Indonesia?
Hal ini semua berlaku karena tempat itu menjadi kepulauan Visit Malaysian no 1 di Malaysia dan dikarenakan banyaknya perhotelan-perhotelan bertaraf international sehingga membuat banyak orang asing tidak bimbang untuk mengeluarkan kocek mereka dengan harga-harga hotel yang sangat mahal.
Please..!! Jangan biarkan tidur Pulau Samosir! Ayo bangun kembali!! Saya berani bertaruh kalau Pulau Samosir itu lebih indah dan lebih banyak hasil buminya jika dilestarikan dari pada Pulau Langkawi yang hanya hutan belaka.
Jadikan Pulau Samosir ini menjadi pusat lapangan pekerjaan sehingga tidak perlu lagi mereka harus mencari kerja ke kota-kota karena Samosir ini benar-benar kaya dan tolong ubah sikap ketamakan, keegoisan yang membuat rakyat kita jadi miskin dan tidak bisa berkarya.
Jangan karena tempat ini nantinya ramai dikunjungi turis maka masyarakat ramai-ramai membuat harga tanah dengan sangat tinggi.
Siapa lagi yang dapat membangun daerah kita jika tidak dimulai dari masyarakat sendiri dan perhatian pemerintah.
Ayoo ajukan proposal kepada pemerintah atau kalau boleh sampai ke Presiden sekalipun.
Karena banyaknya lapangan pekerjaan di Pulau Langkawi, membuat penduduk setempat tidak perlu mencari pekerjaan diluar kota, karena mereka bisa menjadi kaya dinegeri mereka sendiri. Bahkan semua/setiap penduduk Langkawi memiliki mobil sendiri karena harga mobil saja disana sangat murah. So, kita tidak perlu cerita “mobil”. It’s mean, mereka sangat mudah untuk mendapat pekerjaan.
Jadikan Samosir lebih daripada Bali, maka saya yakin orang-orang Batak tidak perlu lagi susah-susah mencari pekerjaan sampai keluar kota atau ke Malaysia namun bisa berkembang di Pulau Samosir dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang dimulai dari membangun Samosir Islan to “Visit Indonesian” for number 1.
Thanks buaanget buat pembaca yang setia.
Saya harap ini dapat menjadi masukan dan saat saya balik ke Indonesia saya juga bisa mendapat pekerjaan di Samosir.
Horas.




February 16th, 2008 at 9:03 pm
Setiap orang batak sangat mengharapkan perubahan akan kehidupan masyarakat batak menuju yang lebih baik lagi,tapi jangan terlalu banyak berharap alias optimis karena banyak hambatan dan permasalahan yang harus kita hadapi.Kita bisa melihat hingga saat ini bila kita bandingkan dua puluh tahun kebelakang.orang batak yang duduk dalam jajaran pemerintahan,anda bisa nilai sendiri tanpa saya jelaskan disini.Saya bukan menjelek jelekan suku saya sediri tapi begitulah kenyataannya.Dulu sewaktu saya masih berumur anak anak,orang masih takut kepada orang tua ,entah orang tua siapa hubungan orang tua dengan anak itu masih sangat harmonis ,dengan kata lain,anak patuh kepada orang tua dan dan orang tua sayang kepada anak.LO! apa hubungannya dengan masalah pembangunan?Itulah salah satu ,yang menjadikan pimikiran orang batak mundur.Pembangunan harus kita mulai dari masalah aklak dan moral,persatuan dalam holong dan saling menghargai dan saling menopang dalam peningkatan kehidupan.bukan saling menghancurkan.Kita belum lupa peristiwa hkbp cob a apa itu?Late hosom elat teal entah apa lagi namanya.ibarat kata cinta orang batak sekarang dengan lagu itu yang mengatakan :lain dibibir lain dihati.Tidak banyak orang batak yang menghedaki kalau temannya lebih baik dari dia atau alias iri.Eh asi roha ate ninna alai ianggo dibagas rohana ndada songoni.lok mintopho ninnado.Ba laos ibana nangkot gabe ketua ,humagon da masi pamintopan,aiise marjamita ari minngu di gareja,ai molo si anu do ba unang ma dan sebagainya dan sebagainya.maaf kalau ada yang tidak setuju
February 18th, 2008 at 9:30 am
Salam Sejahtera untuk kita semua
Saya tertarik dengan rubrik diatas. Namun, dalam kesempatan ini yang menjadi menarik perhatian saya adalah tanggapan dari saudaraku Nainggolan.
Saya memahami apa yang dikatakan Tulang/lae (Manjou aha do ahu ate). Sekarang ini rasa hormat kepada orang tua memang sudah mulai terpinggirkan. Jika dulu saya masih di Bona Pasogit, Tarutung. Pada jaman saya masih sekolah disana, tung biar hian do iba mamereng orang tua, guru, manang ise pe tahe na ta anggap orang tua.
Kita selalu patuh, sepertinya tidak pernah ada pembangkangan. hal itu bisa kita lihat dari hal-hal kecil seperti hari Natal/Tahun baru. Kami tidak pernah meminta apa yang menjadi keperluan natal/tahun baru kepada orang tua. tetapi orang tua selalu membeli.
satu hal yang menarik bagi saya, jika orang tua sudah membeli sesuatu untuk kita, mengenai warna, model, atau apapun bentuknya, kita selalu menerima. Puji Tuhan, kebetulan yang dibeli orang tua selalu menyenangkan hati kami(Mungkin ketaatan itu yang membuat kami selalu senang). Saat sekarang, anak-anak orang batak sudah mulai diberikan pilihan oleh orang Tua untuk menentukan sesuatu yang lebih diminati. Menurut saya itu positif asal bisa dikendalikan. Hanya saja, tidak jarang kita melihat anak-anak orang Batak sudah mulai hilang jati dirinya. hal itu terlihat dari sikap anak itu sendiri terhadap orang tua/ orang yang lebih tua. persoalannya tidak jelas dimana. apakah karena pergaulan, atau justru orang tua jaman sekarang memang sudah kalah dalam jiwa kepemimpinan dibanding orang tua jaman dulu?
Saya setuju wejangan salah seorang rekan yang menyatakan, tindakan kita lebih diperhatikan dan dituruti oleh anak-anak dibanding omongan. misalkan saja, cara bicara. Jika suami berbicara lembut dan suka mendengar istrinya berbicara, tentu anak akan menirunya. Jika figur ayah seorang pendoa, tentunya anaknya juga akan suka berdoa.
Mengenai elat, Late dan hosom. saya senang jika kita tidak usah memunculkan kata-kata itu walaupun kenyataanya sering terjadi. Kita mulai dari diri sendiri saja. Jika ingin kita ingin diperlakukan orang seperti yang kita inginkan, mari kita lakukan orang lain seperti itu. Hukum tabur tuai tetap berlaku. Karena biar bagaimanapun, kita semua sama. Anak-anak batak anak-anak Raja.
February 23rd, 2008 at 12:09 am
curent post inspired we much
interesting Sanger on that post.
The post so much desired.
February 25th, 2008 at 1:41 am
Maaf ya moderator batakpos.com yang terhormat, saya sudah kirim comment tapi kenapa tidak tertera ya? Padahal hari pertama saya kirim masih tertera tapi hari berikutnya kenapa tidak ada lagi?
March 21st, 2008 at 8:44 am
Horas Samosir….
Saya juga salah satu staf yang bekerja di hotel Malaysia.
Saya sangat tertarik dan mendukung apa yang saudari Ully lampirkan.
Memang kalo bukan kita yang mengembangkan, memajukan serta ketahap mempromosikan Tano Batak, siapa lagi? Memang semuanya tidak diharapkan secara instan dapat terjadi seperti yang kita inginkan tapi kita bisa memulainya dari kesadaran masing-masing masyarakat dan sude halak Batak.
Setiap saya pulang kampung to Samosir yang tercinta, dari tahun ke tahun tidak ada perubahan selalu saja sama. Bagaimana pengunjung mau sering-sering datang sedangkan yang dilihatnya pun itu-itu aja!
Saya sedih karena tiada perkembangan. Kehidupan masyarakatpun gitu-gitu aja menerima apa yang ada. Padahal Samosir aturannya adalah salah satu penghasil wisata yang sangat besar untuk kemakmuran rakyat. Tetapi lama kelamaan malah tambah merosot. Kenapa saya katakan merosot?
1. Tidak adanya kesadaran untuk menciptakan lingkungan yang bersih. Tepi danau toba penuh sampah, kotoran-kotoran binatang dimana-mana. Kita ajapun kurasa jijik apalagi pendatang? Gimana pariwisata akan maju? Danau itu sangat indah tapi buruk karena tidak ada kesadaran rakyat batak.
2. Kebudayaan/adat batak sudah mulai hilang. Buktinya rumah-rumah batak bolon sudah tertukar dengan rumah beton, acara batak yang selakunya diiringi gondang uda ganti dengan keyboard, tarian tortor pun dah tergabung dengan biring-biring dan tarian india. Bahkan dalihan natolu pun dah amburadur. Bisa berubah dengan jaman modern, tapi…..pertahankanlah adat yang akan diwarisi turun temurun.
3. Tidak ada kerjasama. Kebanyakan kerjasamanya hanya “NGUMPUUL DI LAPO TUAK” Para pemudanya pun nongkrong-nongkrong tida ada arah dan tujuan sehingga pemikiran yang bukan-bukan terlintas.
Mari bukalah mata untuk perkembangan Samosir. Jika kita membandingkan negara tetangga seperti Malaysia kita sudah kalah majunya terutama dalam hal kesadaran dan pemikiran bukan karena pemerintahan saja dan teknologinya yang semakin maju. Padahal bukan hanya orang Indonesia pada umumnya juga banyak yang pintar tapi orang Batak khususnya juga banyak yang pintar tapi kepintarannya kebanyakan digunakan hanya untuk kepentingan diri sendiri saja atau kelompok masing-masing (holan marga) dan godang na markomentar.
4. Tu hamu akka amang-inang yang berjualan di Samosir sekitarnya, unang manorohon arga ala isi rame otik semua barang jadi mahal-mahal. Jangan memikirkan keuntungan yang sesaat itu saja. Tapi pikirkanlah keuntungan yang akan terus menerus karena, pelanggan akan merasa kecewa membelinya, dan kalau mereka datang lagi, mereka tidak akan membeli pada areal itu lagi. Malah membawa bekal dari rumah masing-masing. Buatlah harga tetap dari pada kehilangan pelanggan.
Dalam mengembangkan Samosir, mungkin saudara-saudara memikirkan dana. Kalau kita hanya mengharapkan dan dari pemerintah saja, kepan lagi kita melihat samosir itu berkembang? Kesatuan hati dan kemauanpun bisa mengembangkannya dengan mengulurkan bantuan dana masing-masing dan tenaga kan tidak ada salahnya demi kehidupan yang akan datang. Toh kita-kita juganya yang akan menikmati hasilnya. JANGAN DULU PIKIRKAN PERSOALAN YANG LAIN ATAU YANG DIBELAKANG TAPI PIKIRKANLAH UTNUK KEMAJUAN YANG AKAN DATANG (FOKUS)! DEMI SATU TUJUAN! MARI BELUM TERLAMBAT MEMBANGUN SAMOSIR.
Atasan-atasan yang kami hormati, janganlah memikirkan korupsi, memikirkan diri sendiri. Tetapi kasihanilah kami masyarakat yang ada dibawah ini.
Tung porsir hian do dihilala hami. Unang tambai hamu be. Malah seharusnya buatlah ide-ide baru & positif thinking untuk kemakmuran yang akan datang.
Kami sangat bangga akan keberhasilan-keberhasilan halak batak i perantauan dan godang akka pejabat-pejabat i pemerintahan dan nunga godang halak hita na mora. Alai baenma idemuna na mandukung tu perkembangan pariwisata Samosir Island to “Visit Indonesia for number 1″
Mauliate godang
Horas!
March 28th, 2008 at 7:15 pm
Saran dan commentnya bagus dan patut diambil sisi positifnya dan memang tetap harus berpikiran positif dengan segala tantangan yang sedang kita hadapi terutama di Samosir.
Saya sudah kerja di hotel cukup lama. Sebagian besar pengalaman saya di Jakarta sampai akhirnya saya sekarang kerja di company yang sama di London.
Kita punya 3 kunci yang membuat kita menjadi salah satu world leading hotel ‘People, Product, Profit’.
PEOPLE, adalah kunci paling utama yang menjadi sumber kesuksesan di berbagai sektor industri termasuk hospitality. (satu hal yang saya perhatikan dari kita orang Batak, kita belum memberikan seluruh hati dan pikiran kita untuk sektor pariwisata, masyarakat maupun pemerintah setempat). Mungkin untuk orang KITA sektor ini menjadi prioritas nomor…100 mungkin…. Karena orang kita masih me nomor satukan dicipline ilmu yang lain yang orientasinya nanti ke generasi berikutnya harus menjadi (Dr. DR or Ir) Nah sektor industri pariwisata masih menjadi nomor yang mungkin as the last choice). Inilah salah satu penyebab kenapa sumber daya manusia di Samosir tidak mendukung berkembangnya pariwisata disana.
PRODUCT, having well trained employees produce excellent products. (handy crafts bisa menjadi salah satu andalan yang bisa kita jual ke tamu-tamu yang datang ke Samosir), tapi people disini dari sisi hotel adalah karyawan2 hotel disana. Apakah kita sudah memahami sepenuhnya apa yang harus kita provide ke guests yang nginap di hotel kita?, do we give them the right things at the right time?. Jangan merasa tersinggung kalau saya ungkapkan disini bahwa merekalah sumber penghasilan kita, itu kalau kita sepenuhnya menggantungkan hidup kita dari sektor pariwisata (buat saya merekalah yang membayar gaji saya). Jadi apakah kita sudah siap menggantungkan hidup kita ke sektor ini?, apakah kita sanggup memberikan seluruh perhatian kita untuk memajukan sektor ini?, semua jawabannya ada di kita semua.
PROFIT, dengan sendirinya profit itu akan datang kalau kita bisa memuaskan para tamu yang datang ke Samosir. Mungkin fasilitas belum se wow hotel bintang 5, tapi apakah fasilitas hotel-hotel yang sekarang ada di sana di maintain kebersihannya contohnya?. Apakah tarif hotels maupun harga barang (souvenirs) bisa terjangkau?. Apakah products itu sendiri cukup memuaskan tamu?. Terakhir saya ke Samosir dan saya membeli T-shirt yang hasil sablonannya maaf ‘ masih sangat kasar’dan juga hasil ukiran2 kayunya. Mungkin ini salah satu hal kecil yang perlu perhatian sebagai souvenir buat dibawa pulang ke negara para tamu.
Tamu akan tetap datang ke Samosir bukan hanya karena keindahan pulau itu sendiri. Banyak pulau-pulau indah lainnya di Indonesia maupun di negara lain. Yang menjadi tantangan besar buat kita adalah menciptakan sesuatu yang memorable buat mereka yang membuat mereka selalu ingin datang ke Samosir (songon sangsang, boasa sai lomo rohanta mangallang sangsang, ala ni tabo na do?)
Jadi lae-ito, memang gak selalu tergantung dari pemerintah tapi tergantung dari kemauan kita sendiri untuk maju.
Jadi lae ito mari kita layani tamu kita (Wisnu and Wisman) dengan sepenuh hati dari mulai turun dari bus, naik kapal ke Tuktuk atau tempat lain c/i di hotel etc sampai mereka pulang.
Horas.
March 30th, 2008 at 9:15 am
sedikit sedih membaca berita diatas. sangat sedih lagi ketika membaca coment yang ada di bawah.
bagaimana tidak samosir seperti itu ?
orang yang2 yang mengerti pariwisata ? (penulis berita dan yang coment dibawah . maap kalo sebut merek) malah pergi k malasya
tinggal disana dan membangun malasya.
jangan bermimpilah samosir bisa maju tanpa kalian, pemikiran kalian sangat dibutuhkan disana. jangan percaya pemerintah saat ini bisa membangun samosir.
kebetulan saya seorang putra samosir, tapi sedang kuliah di bandung (http://rajasimarmata.wordpress.com).
marilah kita pulang ke samosir
dan buktikan kalau kita peduli samosir
bukan hanya dengan kata2 di dunia maya ini
kalau anda ngerti akan pariwisata coba pulang dan kembangkan yang ada dalam pikiran anda di smosir
jangan dimalasya sana,
dan sekali lagi jangan bilang orang batak late, teal dan lain sebagainya.
orang batak tidak seperti itu
kalo memang anda seperti itu jangan bilang anda orang batak
terimakasih buat pemilik blog, maap kalo kata2nya kurang sopan
salam
horas
sukses selalu
April 1st, 2008 at 6:06 am
“Belajar dari pengalaman itu adalah guru yang paling baik”
Menurut saya tidak ada salahnya kita menerima pendapat orang lain karena mereka hanya memberikan ide dari pengalaman yg mereka dapatkan dari negara yang sudah cukup maju dibanding negara kita.
Rasanya tidak pantas menyalahkan kehendak orang lain kenapa mereka harus bekerja di Malaysia atau Amerika sekalipun, itu adalah etika untuk saling menghargai satu sama lain.
Jangan menganggap diri merasa benar apalagi kita merasa pendidikan kita jauh lebih hebat dari orang yang bekerja diMalaysia, ini hanya sebagai contoh.
Anda sendiri belum jelas mengetahui latar belakang mengapa orang tersebut bekerja di Malaysia. Mungkin saja karena dia merasa sulit mendapatkan pekerjaan dinega sendiri sehingga dia harus mencari pekerjaan dinegara Jiran (Malaysia)
Nah, sedangkan ide yang mereka tuang, menurut informasi yang saya ketahui karena mereka baru saja mengetahui adanya Websita www.batakpos.com ini yang dapat memberikan kesempatan kepada siapa saja yang ingin memberikan komentarnya buat kepariwisataan yang ada di Indonesia khususnya di Pulau Samosir sedangkan mereka sudah cukup lama tinggal di Malaysia so mereka merasa terbuka hati mereka untuk memberikan ide mereka sesuai dengan pengalaman apa yang mereka dapat dan mereka lihat. Dan mereka juga merasa tidak ingin bekerja dinegara lain tapi karena situasi EKONOMI, dan juga sarana bagi mereka untuk mengembangkan pendidikan yang sudah mereka dapatkan dibidang PARIWISATA untuk bisa memiliki PENGALAMAN dari negara yang sudah maju.
Saya berharap komentar anda tidak menyudutkan orang lain. Siapa tau nereka akan pulang dan akan turut memberikan pengalaman yang sudah mereka dapatkan. Seharusnya kita bangga ternyata masih ada bangsa ika yang bekerja dinegara lain namun tidak melupakan kampung halamannya justru memberikan ide-ide yang POSITIF demi perkembangan pariwisata khususnya Pulau Samosir. Bukan istilah batak yg mengatakan ” Songon na Sipanggaron tor adong otik manang songon na hebat lao to lapo tuak holan markombur manang soadong karejo”.
Mari sama-sama kita saling memberikan dukungan dan bukan saling menyudutkan orang lain.
Terimakasih khususnya buat saudara “Raja Simarmata”.
April 5th, 2008 at 3:35 pm
Terimaksih ito Maria atas commentnya. Salah satu bukti nyata dimana orang kita belum siap menerima saran dan kritik dari orang apalagi dari sesama orang KITA. Semestinya dalam situasi dimana Samosir tidak termasuk ladi dalam list ‘Daerah tujuan Wisata’ kita bisa menampung sebanyak mungkin saran dan informasi dari orang dimanapun mereka berada agar SAMOSIR masuk lagi dalam list.
Saran yang saya ungkapkan disana adalah atas pengalaman yang telah saya rasakan selama bekerja di Hotel.
Buat company kita’Manusia/employee’ itu menjadi asset yang paling utama, employee yang punya ‘ATTITUDE’ yang sesuai dengan stadard kita.
Kenapa kita selalu memgutamakan manusia?, karena manusialah yang membuat ‘LAPO’ itu ramai dikunjungi tamu-tamu. Bukan karena lampetnya, sangsangnya, atau kopinya. Tapi bagaimana kita menyajikannya semua sehingga tamu itu tetap datang.
Sepertinya tidak ada gunanya kita ber argument tentang masalah ini. Tapi mari kita membuka hati dan pikiran kita agar Samosir tetap bisa berkembang.
Saya kira tidak ada salahnya kita minta saran dan bantuan ke BPLP (maaf sekolah Pariwisata di Medan).
Kita yang bekerja di luar negeri atau pun kuliah dimana pun? gak perlu merasa bahwa kita ‘Superb’dan salah satu yang perlu diingat ‘There is no stupid Ideas’.
April 25th, 2008 at 10:00 am
horas….
memulai suatu perubahan dan pembaharuan tidak segampang mambalikkan telapak tangan.apalagi dengan membuat suatu perubahan besar untuk samosir.selama ini saya pikir orang luar sudah banyak tau tentang wisata danau toba.hanya yang menjadi masalah mungkin kurang ditingkatkan.
bukankah orang pintar berkata pengalaman adalah guru yang terbaik.yah bila perlu kita mencoba mencontoh negara2 maju dalam peningkatan pariwisata disamosir.tidak salah kalau kita belajar dari pengalaman teman2 yang kerja dimalaysia kita jadikan jadi pembelajaran. dan setiap orang yang
memberi ide dan pemikiran patut kita hargai dan berterima kasih.dalam hal ini memang semua pihak diharapkan untuk meningkatkan pariwisata di samosir dengan berbagai sarana dan prasarana yang makin ditingkatkan. semoga Samosir makin Sukses dan dikenal seluruh belahan Dunia.Mauliate
April 25th, 2008 at 10:04 am
horas kak Ully Sinaga. Saya juga sinaga.salam kenal ya…
bisa ngak minta alamat emailnya. saya lahir di siborongborong n kerja di Banda aceh…
kalau punya waktu kita berkirim surat ya ini alamat email saya riryes_may@yahoo.com sukses disana ya.GBU
May 11th, 2008 at 11:52 pm
HORAS………SAMOSIR
TARLUMOBI TU HITA SALUHUTNA NA ADONG DI PANGARATTOAN.
Melihat permasalhan yang ada di atas, saya sangat tertarik untuk dapat berpartisipasi dalam membantu permasalahn yang kita (orang batak) alami pada saat ini yaitu masalah pulau Samosir. kemarin saya membaca sebuah buka yang dimana isinya sangat membuat hita orang batak sangat sedih (di seat ate-ate), yang dimana dalam buku tersebut di katakan bahwa DANAU TOBA DI CORET DARi VISIT INDONESIA 2008. Bagaimana kita orang batak menyikapi hal ini??? dulu ketika saya masih SD(SEKARANG LAGI KULIAH DI BANDUNG) sering meminum air danau toba dan tidak menimbulkan penyakit, nah sekarang???????
SATU hal yang tidak boleh dipungkiri adaalah bahwa orang batak keras kepala, yang selalu mementingka diri sendiri, tidak mau memperhatikan orang lain (maaf klo aku bicaranya kurang baik) karena aku juga orang batak, marilah kita sesama orang batak membangun samosir dengan tulus hati,kalau tidak kita siapa lagi??? saya sangat siap jika saya di panggil untuk membangun samosir, udah dulu ya aku maU kuliah……………HORASSSSSSSSSSSSSSSSSS.