Laporan Wartawan Kompas Andy Riza Hidayat
MEDAN, KOMPAS- tidak jauh dari pusat Kota Medan masih ada sekolah dasaR negeri yang kondisinya memprihatinkan. SDN 060941 di Titi Papan, Medan Deli, Medan, Sumatera Utara, hanya mempunyai tiga ruang kelas yang bisa dipakai. Padahal, sekolah itu harus menyelenggarakan pembelajaran untuk siswa enam kelas.

”Sudah 20 tahun saya mengajar di sekolah ini. Dari waktu-ke waktu tidak ada kemajuan, malah semakin dibiarkan rusak. Saat ini, siswa tidak hanya kekurangan ruang kelas, melainkan juga kekurangan bangku” kata guru wali kelas 3 SDN 060941 Sudarsini (51) saat ditemui di sekolahnya.

Menurut Sudarsini, kekurangan ruang kelas itu membuat jam belajar siswa berkurang. Mereka harus membagi jam belajar menjadi dua sesi setiap hari. Sekolah pagi untuk siswa kelas 1, 2, dan 6. Mereka masuk antara pukul 07.30 sampai 10.00. Sedangkan jam belajar siang untuk siswa kelas 3, 4, dan 5. Mereka belajar mulai pukul 10.00 sampai pukul 13.00.

”Dengan jam belajar yang sedikit, siswa tidak bisa maksimal menerima materi pelajaran,” katanya. Apalagi, alat peraga sekolah juga nyaris tidak ada. Alat peraga yang ada hanyalah poster-poster lusuh. Salah satunya gambar mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri.

Tidak jarang, para siswa menerima pelajaran sambil berdiri lantaran kekurangan bangku. Padahal, sebagian dari mereka sudah duduk bertiga dalam satu bangku. Tidak hanya murid yang merasakan dampak kekurangan sarana sekolah. Para guru yang tidak mempunyai ruang khusus seringkali juga tidak kebagian tempat duduk.

SD itu merupakan satu dari tiga SD di Kelurahan Titi Papan. Meski letaknya sekitar 30 Meter dari Pasar Titi Papan, bangunan sekolah sudah banyak berlumut. Atap seng sekolah sudah banyak yang koyak. Beberapa bagian bangunan retak dimakan usia. Sebenarnya sekolah itu mempunyai empat ruang kelas, namun satu ruang sudah tidak bisa lagi dipakai belajar siswa.

Sudarsini seringkali membicarakan kondisi sekolah dengan kepala sekolahnya. Namun perbaikan tidak kunjung ada kepastian. ”Saya khawatir ini sengaja dibiarkan rusak, terus dijadikan ruko (rumah toko). Sebab letaknya strategis sekali,” katanya.

Para orangtua siswa mencemaskan kondisi sekolah itu. Mereka khawatir sekolah tiba-tiba ambruk menimpa siwa yang sedang belajar. Jika hujan turun, kegiatan belajar tidak bisa dilaksanakan. Sistem drainase yang buruk membuat air masuk ke ruang kelas setinggi lutut siswa.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Titi Papan Abdul Ghafur meminta pemerintah memperhatikan sekolah itu. Menurut dia, sekolah itu sudah ada sejak zaman Belanda. ”Tetapi mengapa pada zaman kemerdekaan sekolah tidak bertambah bagus, melainkan semakin buruk tinggal menunggu robohnya saja,” katanya.