Tiga Ruang untuk Enam Kelas
BONAPASOGIT | 205 Views November 7th, 2007Laporan Wartawan Kompas Andy Riza Hidayat
MEDAN, KOMPAS- tidak jauh dari pusat Kota Medan masih ada sekolah dasaR negeri yang kondisinya memprihatinkan. SDN 060941 di Titi Papan, Medan Deli, Medan, Sumatera Utara, hanya mempunyai tiga ruang kelas yang bisa dipakai. Padahal, sekolah itu harus menyelenggarakan pembelajaran untuk siswa enam kelas.
”Sudah 20 tahun saya mengajar di sekolah ini. Dari waktu-ke waktu tidak ada kemajuan, malah semakin dibiarkan rusak. Saat ini, siswa tidak hanya kekurangan ruang kelas, melainkan juga kekurangan bangku” kata guru wali kelas 3 SDN 060941 Sudarsini (51) saat ditemui di sekolahnya.
Menurut Sudarsini, kekurangan ruang kelas itu membuat jam belajar siswa berkurang. Mereka harus membagi jam belajar menjadi dua sesi setiap hari. Sekolah pagi untuk siswa kelas 1, 2, dan 6. Mereka masuk antara pukul 07.30 sampai 10.00. Sedangkan jam belajar siang untuk siswa kelas 3, 4, dan 5. Mereka belajar mulai pukul 10.00 sampai pukul 13.00.
”Dengan jam belajar yang sedikit, siswa tidak bisa maksimal menerima materi pelajaran,” katanya. Apalagi, alat peraga sekolah juga nyaris tidak ada. Alat peraga yang ada hanyalah poster-poster lusuh. Salah satunya gambar mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri.
Tidak jarang, para siswa menerima pelajaran sambil berdiri lantaran kekurangan bangku. Padahal, sebagian dari mereka sudah duduk bertiga dalam satu bangku. Tidak hanya murid yang merasakan dampak kekurangan sarana sekolah. Para guru yang tidak mempunyai ruang khusus seringkali juga tidak kebagian tempat duduk.
SD itu merupakan satu dari tiga SD di Kelurahan Titi Papan. Meski letaknya sekitar 30 Meter dari Pasar Titi Papan, bangunan sekolah sudah banyak berlumut. Atap seng sekolah sudah banyak yang koyak. Beberapa bagian bangunan retak dimakan usia. Sebenarnya sekolah itu mempunyai empat ruang kelas, namun satu ruang sudah tidak bisa lagi dipakai belajar siswa.
Sudarsini seringkali membicarakan kondisi sekolah dengan kepala sekolahnya. Namun perbaikan tidak kunjung ada kepastian. ”Saya khawatir ini sengaja dibiarkan rusak, terus dijadikan ruko (rumah toko). Sebab letaknya strategis sekali,” katanya.
Para orangtua siswa mencemaskan kondisi sekolah itu. Mereka khawatir sekolah tiba-tiba ambruk menimpa siwa yang sedang belajar. Jika hujan turun, kegiatan belajar tidak bisa dilaksanakan. Sistem drainase yang buruk membuat air masuk ke ruang kelas setinggi lutut siswa.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Titi Papan Abdul Ghafur meminta pemerintah memperhatikan sekolah itu. Menurut dia, sekolah itu sudah ada sejak zaman Belanda. ”Tetapi mengapa pada zaman kemerdekaan sekolah tidak bertambah bagus, melainkan semakin buruk tinggal menunggu robohnya saja,” katanya.




November 21st, 2007 at 10:53 pm
Duilah …sudah 20 tahun kondisi sekolah dari waktu ke waktu tidak ada kemajuan/ di perbaiki.
Koq tega Bapak pemerintah tidak perhatiin….”Perhatiin dong….mereka2 itu yang mengganti jabatan2 Bapak nanti.
Kasihan kan…!
Inikan mentilap uang rakyat bisa…tapi bangun ruang sekolah dikatakan tidak ada…uang. Susah dach..
January 31st, 2008 at 1:16 pm
Horas …iam very felldepply for something going on there,but Iam not promise to you guys ,but give some outline so we can resolve the problem (biayaor expense for rebuilt the school and make it great generation.Iwant you except that my offer,because we have specialist for that.
June 22nd, 2008 at 7:59 pm
Horas…
DICARI, CALON WALIKOTA/WAKIL WALIKOTA MEDAN:
1. Pro rakyat lapar/miskin
2. “Gila Sekolah”..artinya punya hobbi luar biasa terhadap pendidikan warga Medan (murah, wajib dan mewah pendidikan).
3. “Gila Kesehatan”..artinya punya ambisi untuk memanjakan kesehatan warganya (murah, wajib dan mewah kesehatan). Pendidikan investasi dengan harga mati!
4. “Preman”…artinya tidak takut dilengserkan, tidak takut dipenjara untuk membela orang miskin dan tidak takut ikutan makan nasi aking, preman untuk menertiban kesemerawutan dll.
Saya yakin jika walikota kita seperti itu…sekolah akan cantik dan mewah..pasti terwujud.
July 8th, 2008 at 11:43 pm
Horas lae/ito/tulang/amangboru
mewakili anak rantau karena siapun kalau mau mudik kampung pasti lewat medan (biarpun lewat darat atau laut kadang tak lewat medan ) ya tapi kalau tak ke medan tak lengkaplah pulang kampung.
Karena Walkot dan Wakil Walkotnya lagi semedi dipenjara…..
kami anak rantau menyarankan yang jadi Walikota dan Wakil Walikotanya…. harus yang berasal dari anak tunggal bapaknya anak tunggal ibunya anak tunggal kakek dan neneknya anak tunggal dan buyutnya juga anak tunggal bahkan moyangnya langsung keturunan ADAM dan HAWA
Kenapa…. agar tak tergoda Korupsi Korupsi Korupsi
yang punya istri anak tunggal dan tak beranak.
Bukan apa …biasanya Iman kuat tapi tak mampu kalau ada orang minta bantuan ini itu (proyeklah.. atau untuk mahar atau sinamot anaknya).. kata orang bangsa kita ini banyak tak enaknya.
Percayalah saran saya 1000% pasti manjur.