http://www.batakpos.com/wp-content/uploads/2007/10/masmia_image1.jpg
Menjadi orang Batak itu susah-susah gampang. Bagi Lamhot Simamora itu perkara susah. Sehari-hari, ia harus hidup sebagai preman yang siap bertikai mempertahankan lahan parkirnya dari invasi geng lain. Geng di sini silakan dimaknai suku yang berbeda. Sebaliknya, perkara serupa bisa teramat mudah bagi Dibyo, seorang pecundang bersuku Jawa. Suatu hari, ujug-ujug ia berganti nama menjadi John Sidabutar dan siap mengawini gadis bernama Butet Simamora secara adat. Amboi�

Apa urusannya kok tiba-tiba malah menggosipkan orang Batak? Tenang dulu. Penggalan kisah di atas adalah plot dari film terbaru Sinemart yang bertajuk �Maaf, Saya Menghamili Istri Anda�. Nama Monty Tiwa dipastikan positif menjadi oknum yang paling bertanggung jawab atas proyek ini. Dalam struktur militer, Monty tak hanya menjadi aparat intelijen yang merancang skenario serangan dari A sampai Z, ia juga merangkap sebagai perwira yang terjun langsung memimpin operasi film komedi ini.

Monty, kendati bukan orang Batak, kali ini mencoba bertutur tentang sosok manusia dari salah satu suku di Sumatra Utara. Agaknya, ia menangkap khazanah selera humor yang khas di sana. Setahun silam, dalam �9 Naga� pria bertubuh besar ini memang sempat menghampiri wacana orang Batak secara sekilas lewat sosok penjaga lapo tuak. Kini, Monty menuangkannya secara lebih kental dan menandai debutnya duduk di kursi sutradara.

Kisahnya berawal dari Dibyo (Ringgo Agus Rahman) yang menjadi sosok sentral dalam film ini. Banyak aura negatif lekat dalam dirinya, mulai dari pengangguran, tukang gombal dan banyak hutang. Adalah sebuah keberuntungan jika dalam suatu pesta ia bisa kenal dengan cewek bernama Miranti Sianturi alias Mira (Mulan Kwok). Singkatnya, Mira terpikat pada Dibyo dan hamil. Celakanya, ia masih punya suami, yakni Lamhot Simamora (Eddie Karsito). Kepada Lamhot nan bengis ini, yang ternyata adalah pimpinan kelompok preman, Dibyo kudu minta izin mengawini Mira. Ndilalah, saat berada di rumah Lamhot jagoan kita ini malah terlibat hubungan terlarang dengan adik Lamhot, Butet (Shanty) hingga situasinyapun menjadi kian rumit.

Yang paling khas dari film ini adalah semangat melucu yang dilakukan Monty dalam naskahnya. Permainan kata-kata lewat dialog misalnya, menjadi salah satu senjata ampuh untuk meledakkan tawa di dalamnya. Sebut saja �pick up line� dari Dibyo saat awal berkenalan dengan Mira: �Nama Mala, kepanjangan dari Malaikat�. Halah… Atau permainan pelesetan nama pimpinan geng lawan, yakni Zeus yang ternyata ayah dari Hercules, nama pimpinan geng dalam dunia nyata. Sebuah utak-utik yang menarik. Idiom-idiom khas Batak juga acapkali muncul dengan jenaka. Tengok saja saat Marudut Sitanggang (T Rifnu Wikana), tangan kanan Lamhot, yang menyebutkan tarombo (silsilah)-nya hingga Julius Sitanggang, biduan cilik era 80-an.

Tidak hanya permainan kata, di sini Monty menghadirkan pula banyak parodi, misalnya miniatur dari situasi opname film. Sosok tiruan Rudi Soedjarwo yang ada di sana, seolah menegaskan semangat main-main yang ingin diusung. Harus diakui, naskah yang kuat ini menjadi pendukung bagi para pemain yang tidak terlalu kuat mutunya. Memang, naskah itu tidak menyampaikan pesan berat sehingga film ini jatuhnya hanya sekadar bercerita. Kalau jadinya yang tampak adalah upaya para pemain menjadi seperti orang Batak, mohon maaf. Namanya juga main-main.

Semangat main-main itu tak hanya tampak dalam elemen cerita. Pun dengan elemen gambarnya. Lima nama juru kamera yang dipasang di sana tetap saja tidak membuat tata fotografi dalam film ini menjadi menarik. Terus saja berguncang dan menyakitkan mata. Sampai-sampai saya harus berucap: maaf Monty, saya membenci tata gambar main-main dalam film anda.(matamat.com)