03/10/2004 09:24 Sastra
Sitor Situmorang Masih Berapi-api
http://www.batakpos.com/wp-content/uploads/2007/09/031004asitor.jpg

Liputan6.com, Jakarta: Gema gunung-gunung sekeliling/ mantra tiga ribu pemahat batu/ doa empat ribu penata zikir/ seribu lima ratus pengukir manunggal batu di dua bintang di kulit andesis banguan candi 1000 tahun/. Itulah penggalan syair yang dibacakan Rieke Diah Pitaloka dalam acara ulang tahun ke-80 penyair Sitor Situmorang di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (2/10). Puisi itu bertajuk Borobudur, salah satu karya Sitor Situmorang.

Sitor merayakan hari lahirnya bersama sejumlah sastrawan Tanah Air. Penyair angkatan `45 ini juga memamerkan puluhan kumpulan puisi, baik yang sudah dikenal maupun tidak. Pria berdarah Batak ini turut mempertunjukkan dokumentasi seputar keterlibatannya dalam peta sastra dan politik di Tanah Air. Bahkan, pada perayaan HUT itu, Sitor sempat membacakan sajak yang menceritakan penderitaan rakyat kecil.

Mantan Pemimpin Redaksi Suara Nasional ini sudah dari dulu sangat peduli dengan penderitan rakyat. Sitor pernah mendekam di Penjara Salemba, Jakarta (1967-1975) tanpa pernah diadili. Karyanya yang berjudul Sastra Revolusioner sarat dengan kritik-kritik tajam. Kendati demikian, eks anggota MPRS ini tidak berhenti berkreativitas. Dia masih terus berkarya. Selama dalam penjara, Sitor menghasilkan karya berjudul Dinding Waktu dan Peta Perjalanan.

Karya Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) periode 1959-1965 itu tidak hanya terkenal di Indonesia. Sejumlah puisi ciptaan pria kelahiran Harianboho, Samosir, Sumatra Utara, ini telah dierjemahkan ke dalam sejumlah bahasa asing, seperti Inggris dan Belanda.

Perjalanan lelaki tua yang daya hidupnya tak pernah padam ini memang penuh warna. Banyak negara yang sudah dikunjunginya. Dia pernah tinggal di Belanda, juga lama berdiam di Paris, Prancis.

Saban bercerita, tangannya tak pernah diam, seolah turut memberi penekanan sehingga pendengarnya ikut di dalam cerita. Teringat di pertengahan 2002 ketika dia membacakan sajaknya yang ramai diperdebatkan pecinta sastra yang berjudul Malam Lebaran. Malam Lebaran, bulan di atas kuburan.(DNP/Wendi Surya dan Anto Susanto)