Tarawih Pertama, PLN Malah Lakukan Pemadaman
NASIONAL | 244 Views September 13th, 2007*Rumah Gubsu Didemo
Siantar-Warga Siantar-Simalungun bahkan Sumatera Utara kecewa!!Pasalnya, memasuki bulan suci Ramadhan yang penuh rahmat, PLN melakukan pemadaman tanpa pemberitahuan sebelumnya. Namun demikian, tarawih pertama di mesjid-mesjid tetap berjalan lancar
, walau sebagian harus menggunakan lilin dan lampu teplok.
Pemantauan Trans Media, Siantar-Simalungun gelap menjelang malam. Inti kota sepi dari warga yang biasanya lalu lalang ketika umat Islam menunaikan salat tarawih, hanya beberapa toko yang menggunakan genset yang buka.
Beberapa mesjid nampak menyediakan genset, yang sebagian atas inisiatif warga. Namun di pinggiran kota, tarawih berjalan hikmat dan khusyu walau hanya disinari cahaya lilin dan lampu teplok. Warga mengaku kecewa dengan sikap PLN yang masih saja memadamkan listrik di bulan Ramadhan.
Dicky, salah seorang warga yang salat tarawih di mesjid Istiqomah Jalan Bola Kaki Kecamatan Siantar Barat mengatakan tidak begitu terganggu karena ada genset. Namun ia tetap prihatin dengan pemadaman saat memasuki bulan Ramadhan. Bagaimana dengan yang tak memiliki genset, katanya.
Demo Gubsu
Kecewa dengan padamnya listrik pada malam pertama salat tarawih, Rabu (12/9), sekitar 20 orang berdemo usai salat tarawih ke rumah dinas Gubernur Sumut di Jalan Selamat Riyadi, Medan. Aksi demo ini untuk mengecam gubernur yang dinilai tidak becus mengurus wilayahnya.
Massa datang dengan menggunakan beca mesin. Mereka menggelar demo dengan membawa serta lilin sebagai bentuk prihatin atas padamnya listrik tersebut.
“Gubernur tidak becus, masyarakat Islam di Sumut sangat kecewa dengan masalah ini. Kami juga meminta agar General Manager PT PLN Kitlur Sumbagut, Albert Pangaribuan untuk mundur dari jabatannya,” kata Syafrizal R Batubara, koordinator aksi tersebut.
Massa yang datang sekitar pukul 21.30 WIB usai tarawih di Masjid Raya Medan, hanya menggelar aksi sekitar setengah jam dan kemudian membubarkan diri. Tidak satu pun delegasi diterima penghuni rumah. Gubernur Sumut Rudolf Pardede pada saat demo sedang tidak berada di rumah dinas.
Tak lama setelah massa membubarkan diri, listrik yang semula menyala di rumah dinas, kemudian dipadamkan penghuni rumah. Sekitar 6 polisi tetap berjaga-jaga setelah massa membubarkan diri.
Akibat Gempa
Padamnya listrik di wilayah Sumatera Utara (Sumut) dipastikan sebagai dampak dari gempa 7,9 SR yang terjadi di antara Bengkulu dan Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Namun, sebagian listrik menjelang tengah malam sudah menyala kembali.
Demikian penjelasan Humas PT PLN Pembangkit Penyalur (Kitlur) Sumatera Bagian Utara Marodjahan Batubara , Rabu (12/9). “Pukul 18.20 WIB, sistem kelistrikan Sumut mengalami goncangan akibat gempa bumi, dampaknya pada pukul 18.23 WIB satu per satu hingga semua mesin pembangin padam,” kata Marodjahan.
Demikianlah pantauan di Medan, listrik mulai padam sekitar pukul 18.10 WIB bersamaan dengan gempa Bengkulu. Begitu listrik padam, listrik di Bandara Polonia tetap menyala, karena genset otomatis hidup. Aktivitas penerbangan di Polonia tetap normal.
Sementara pemantauan di masjid-masjid di Medan memperlihatkan warga Medan tetap melakukan salat tarawih dengan khusyu’, meski tidak penerangan lampu yang memadai. Hanya ada cahaya dari lilin dan lampu teplok atau dari bola lampu yang dihubungkan ke baterai mobil.
Salah satunya terlihat di Masjid Silaturahmi di Jl. M Nawi Harahap. Di masjid ini, ada sekitar 100 jamaah yang melakukan salat tarawih. Mereka tampak khusyu’ menjalankan tarawih di hari pertama ini.
Sementara masjid di Jl. Saudara, tampak terang. Pengelola masjid menghubungkan bola lampu dengan kabel ke aki mobil. Di Masjid Muttaqien di Jl. Air Bersih, penerangan bersumber dari lilin dan lampu minyak.
Di Masjid Raya Al Mashun, Jl Sisingamangara, Medan, ada genset. Namun, genset ini hanya membuat terang dalam masjid. Di halaman masjid, tetap terlihat gelap. Padahal, ada 1.000 warga yang mengikuti salat di masjid ini, hingga meluber ke halaman masjid.
Hendra DS, anggota DPRD KOta Medan yang menunaikan salat di Masjid Al-Muttaqien menyesalkan terjadinya pemadaman listrik. “Kita belum tahu tahu pasti penyebabnya. Tapi, tindakan PLN seperti ini berulang-ulang dan terkesan menjadikan Sumut menjadi zaman batu,” kata Hendra.(dtc/TM-01) sumber (SIOM BENG)




January 31st, 2008 at 1:39 pm
Dua pasangan aliran dgn tensi yg sangat tinggi ,dimana harus dikendalikan oleh manusia.Yang satu harus dimonitor secara fase/ sekring,yg satu dimonitor dgn daya beli yg mampu. Semua ini hanya dapat di kontrol oleh manusia ,jadi sisa2 kloni yg ada masih terlekat didlm tubuh orang2 tertentu yg menjalani kronikund hepotisme sekarang ini.