Momen Bersejarah Bagi Bangsa dan Negara, PDIP dan Partai Golkar Bersama-sama Targetkan 60% Suara Pemilu 2009
NASIONAL | 258 Views June 21st, 2007Medan, (Batakpos)
Partai Golkar (PG) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menargetkanperolehan suara hingga 60 persen pada Pemilu 2009.
Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDIP Taufik Kiemas di Medan, Rabu, mengatakan target perolehan suara kedua partai besar itu setidaknya harus dapat diwujudkan di Sumatera.
“Sumatera merupakan salah satu barometer politik di tanah air. Karenanya tekad memenangkan pemilu bersama itu harus dimulai di Sumatera ini,” katanya.
Pada acara silaturahmi antara PG dan PDIP yang juga dihadiri Ketua Dewan Penasehat PG, Surya Paloh, itu Taufik mengatakan bahwa dua partai besar PG dan PDIP telah bertekad untuk secara bersama-sama mewujudkan meraih suara kumulatif di atas 50 persen dalam Pemilu 2009.
“Tidak peduli siapa yang menang pemilu, Golkar atau PDIP. Yang terpenting target kedua partai ini meraih 60 persen suara atau setidaknya harus di atas 50 persen,” ujarnya.
Menurut suami mantan Presiden Megawati Sukarnoputri itu, setelah target raihan suara itu tercapai baru kemudian kedua partai akan menentukan siapa yang akan jadi Presiden pada pilpres mendatang.
“Jika kita sudah menang pemilu, baru kita akan tentukan siapa presidennya. Bisa dari Golkar dan bisa juga dari PDIP,” tambahnya.
Namun demikian Taufik Kiemas menekankan bahwa kemenangan pada pemilu dan pilpres 2009 bagi PG dan PDIP sesungguhnya tidak lebih penting ketimbang tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut dia, bagi kedua partai, NKRI dan tetap terjaganya kemajemukan bangsa jauh lebih penting ketimbang hanya sekadar menjadi pemenang dalam pemilu maupun pilpres.
Komitmen itu menjadi pengikat kedua partai besar tersebut PDIP dan PG bisa saling bersilaturahmi dan kemudian bersatu.
Diantara kedua partai, katanya, tidak ada perbedaan. Keduanya sama-sama berkomitmen dengan NKRI. “Karena itu pula kedua partai ini harus bisa bersatu. Kita sama-sama partai yang berjuang bagi tetap tegaknya NKRI dan pluralisme,” ujarnya.
Terkait silaturahmi kedua partai yang digelar di Medan itu, ia mengatakan bahwa kegiatan itu merupakan momen bersejarah bagi bangsa dan negara ini.
Dijelaskannya bahwa pertemuan silaturahmi itu telah dirancang sejak dua tahun silam serta membutuhkan energi yang tidak sedikit.
“Setelah berfikir dan berunding, ternyata antara Golkar dan PDIP tidak ada perbedaan. Kita punya komitmen dan tujuan perjuangan yang sama,” katanya.
Meski PG berada di jajaran pemerintahan dan PDIP mengambil peran oposisi, menurut Taufik, hal itu tidak akan menjadi penghalang bagi kedua partai untuk bersatu.
“Golkar dan PDIP punya kesamaan. Sama-sama pendukung NKRI, pendukung Pancasila dan pendukung GBHN serta APBN yang pro rakyat. Karena itu kita bisa bersatu,” katanya.
Paloh: PDIP-Golkar Berkoalisi di 2009, Mengapa Tidak?
Pemilu 2009 masih jauh di depan mata, namun sejumlah kalangan sudah siap mengambil ancang-ancang. PDIP dan Partai Golkar, misalnya. Mereka menyatakan siap berkoalisi.
Kemungkinan untuk adanya koalisi antara dua parpol besar ini disampaikan Ketua Dewan Penasihat DPP Partai Golkar Surya Paloh dan tokoh PDIP Taufiq Kiemas dalam jumpa pers bersama, di Hotel Tiara, Jl Cut Mutia, Medan, Sumatera Utara, Rabu (20/6).
“Kemungkinan itu (koalisi) terbuka lebar. Hal ini tidak ditabukan. Jika memang memberikan manfaat yang besar bagi keduanya mengapa tidak? Tapi kapan dan di mananya itu nanti,” kata Paloh.
Pernyataan Paloh tersebut diamini Taufiq Kiemas. Suami mantan Presiden Megawati ini mengatakan kedua pihak memiliki pandangan yang sama. “Usaha masak dilarang,” ungkap Taufiq.
Jumpa pers tersebut digelar setelah Paloh dan Kiemas melakukan pertemuan. Acara ini dihadiri oleh ribuan kader kedua parpol.
Dari kubu PDIP hadir pula Sekjen PDIP Pramono Anung, Ketua DPP PDIP Tjahyo Kumolo, dan politisi senior PDIP Sabam Sirait. Sedangkan dari Partai Golkar hadir antara lain Syamsul Muarif dan Sekjen DPP Partai Golkar Sumarsono.
Bertemu di Medan, Kiemas dan Paloh Samakan Visi di 2009
Petinggi PDIP dan Partai Golkar, yakni Taufiq Kiemas dan Surya Paloh melakukan pertemuan di Medan, Sumatera Utara. Pertemuan ini untuk menyamakan visi pada 2009.
Pertemuan tersebut digelar di Hotel Tiara, Jl Cut Mutia, Medan, Sumatera Utara, Rabu (20/6).
Dalam sambutannya Kiemas mengatakan, PDIP dan Partai Golkar sepakat mencanangkan Indonesia yang aman dan sejahtera sesuai dengan Pancasila. Dengan demikian, Pemilu 2009 bisa dilaksanakan untuk meraih tujuan tersebut.
“PDIP dan Golkar pada prinsipnya sama, yakni sama-sama berpihak pada rakyat kecil. Golkar saat ini memimpin pemerintahan, mengalokasikan APBN untuk kebutuhan rakyat kecil. PDIP sebagai oposisi terbesar juga mengawasi untuk memastikan pemerintah mengalokasikan dana untuk rakyat kecil,” ujar Kiemas.
Hal yang sama juga dikatakan oleh Surya Paloh yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Golkar. Menurutnya, pertemuan ini untuk menggalang kebersamaan untuk membangun bangsa.
“Tapi ini bukan untuk berbicara soal presiden dan wakil presiden. Jadi tidak ada kaitannya dengan pencalonan presiden dan wakil presiden. Tapi murni untuk membangun silaturahmi,” ungkap Paloh.
Acara ini dihadiri oleh ribuan kader dari kedua partai. Mereka datang dengan mengenakan atribut parpol masing-masing. Namun menurut pantauan detikcom, acara tersebut lebih didominasi orang yang memakai baju berwarna kuning.
BUKAN MUSTAHIL TERJADI
Di Pemilu 2009, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan dan Partai Golkar (PG) menargetkan beroleh minimal 50 - 60 persen dari total suara demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan pelestarian serta mengamalkan nilai-nilai Pancasila. Bila target tersebut melenceng, kecenderungan dewasa ini di mana adanya pergeseran nilai-nilai Pancasila yang membahayakan NKRI, bukan mustahil terjadi.
Demikian simpulan ucapan wejangan Ketua Dewan Pertimbangan Partai (Deperpu) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) DPI Perjuangan H Taufik Kiemas dan Ketua Dewan Penasihat PG Drs Surya Paloh di Silaturahmi PDI Perjuangan - PG di Tiara Convention Center, Medan, Rabu (20/6). Silaturahmi dihadiri seluruh fungsionaris kedua partai se-Sumatera, fungsionaris PDI Perjuangan - PG se-Sumut dan sejumlah fungsionaris pusat seperti Wakil Ketua Dewan Penasihat PG DR Siswono Yudhohusodo, Sekjen PG Soemarsono, Ketua DPD PG Sumut HM Ali Umri SH MKN, Syamsul Mua’rif dan Ketua SOKSI Sumut Jusuf Pehulisa Sitepu, Burhanuddin Napitupulu, Yoris Raweyai, Anton Sihombing, Ketua DPD PG Alex Nurdin sebagai calon tuan rumah silaturahmi selanjutnya, Safrida Fitrie dan Mayangsari unsur PDI Perjuangan seperti Sabam Sirait, Sekjen PDI Perjuangan Pramono Anung, Ketua PDI Perjuangan Sumut Rudolf Pardede, Tjahjo Kumolo, Panda Nababan, Dodi Makmun Murod, Firman Jaya Daely, Yasona Laoli, Sekjen PDI Perjuangan Sumsel Rudi Singadikane.
Taufik Kiemas mengatakan, kecenderungan dewasa ini di Indonesia adalah menaifkan pluralisme hingga munculnya pandangan-pandangan baru yang mengutak-atik Pancasila. “Semuanya, bukan mustahil merubuhkan NKRI,” tandasnya sambil mengatakan bahwa siapa saja yang mengaku sebagai warga negara Indonesia berkewajiban untuk menjaga negaranya. “Jadi, jangan curigai bahwa silaturahmi ini sebagai koalisi untuk presiden atau wakil presiden. Apakah mungkin bicara presiden, wakil presiden dan pimpinan lainnya jika negaranya terancam bubar?” tandasnya diikuti pekik merdeka massa.
Taufik Kiemas menegaskan, silaturahmi PDI Perjuangan - PG yang dimassakan di Medan merupakan sejarah dan paling bersejarah di Indonesia karena dua partai besar sama-sama memikirkan nasib bangsanya, menyelamatkan bangsanya.
Menekankan wejangan tersebut, dalam arahannya, Surya Paloh mengupas singkat sejarah perjalanan perpolitikan di Indonesia. Katanya, selama 14 tahun sistem multi partai yang diadopsi di Indonesia pada masa lampau, terjadi 18 kali kejatuhan pemerintah sebagai indikasi instabilnya kondisi negara.
Surya Paloh menunjuk sistem pemerintahan di Jepang dengan Liberal Democratic Party, Singapura dengan People Action Party, Malaysia dengan Barisan Nasional di mana UMNO sebagai motornya. Katanya, posisi itu menunjukkan pada warga, bahwa untuk membangun satu bangsa diperlukan stabilitas. “Saya ingin tegaskan, untuk apa didengungkan demokrasi bila tidak ada perbaikan ke depan. Apakah demokrasi menjadikan orang berbicara sesuka hati, menuntut semaunya?” tandas Surya Paloh.
Ia menegaskan dan merasakan apa yang dikatakan Taufik Kiemas, bahwa terjadi kecenderungan pergeseran atas nilai NKRI di mana semangat dan nilai ideologi kebangsaan bergeser dan mulai meluntur. Untuk itu, lanjutnya, kepedulian PDI Perjuangan - PG atas idealisme berkebangsaan adalah demi kepentingan masa depan, bukan kepentingan sesaat.
Mengenai adanya kemungkinan silaturahmi bergerak ke arah koalisi permanen, minimal mendekat ke Pemilu 2009, Surya Paloh menegaskan menjauhkan pikiran tersebut. “Tetapi, jika pun ada, kan sah-sah saja adanya koalisi karena PDI Perjuangan - PG punya pandangan dan sikap serupa soal NKRI,” tegasnya.
Sebelum Taufik Kiemas dan Surya Paloh menyampaikan wejangan secara begilir, Ali Umri sebagai ketua panitia silaturahmi melaporkan bahwa kegiatan diikuti oleh para fungsionaris sebagaimana yang digariskan oleh kedua partai. Katanya, bila ada kegiatan lanjutan sekaitan tersebut, pihaknya siap menyukseskan hingga ke akar rumput. (Ant/detikcom/R10/M28/M13/c) sumber : detikcom




December 7th, 2007 at 1:57 am
penting!!
prestasi mantan pres. megawati,yang kini mencalonkan diri kembali pada pemilu 2009 mendatang:
1.menjual indosat dengan harga sangat murah ke singapura
2.”memindahkan” perusahaan sony yang cuma satu2nya di asia tenggara ke singapura
3.terkait dengan penjualan tanker dengan harga sangat murah
4.cuma tamat sma???
5.gak bisa pidato,bisanya cuma baca teks
6.gak pinter,sehingga mudah diatur oleh negara lain.
maaf ya,jika ini berlebihan,namun itulah kenyataanya,kita harus tahu bagaimana pemimpin kita,karena pemimpinlah yang akan membawa negri ini baik itu ke arah kehancuran ataupun ke arah kemajuan.Cintailah Indonesia,pintar2lah memilih pemimpin,jangan hanya sekedar “jual nama”