Anda pernah mendengar kata “MARTABE”?
Mungkin ada yang belum, tetapi bagi kerabat dan sahabatku yang berasal dari Tapanuli atau yang pernah berkunjung ke Tapanuli sambil pesiar ke Danau Toba, saya yakin kata ini tidak asing lagi bagi anda.
MARTABE merupakan sebuah kata dalam bahasa Batak yang dalam terjemahan bebas kedalam bahasa Indonesia kurang lebih: memberi salam atau saling memberi salam.
Kata MARTABE oleh pemerintah daerah Tapanuli, dijadikan sebuah semboyan, yaitu singkatan dari MARSIPATURE HUTANA BE sebuah kalimat ajakan.
Jika diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia berarti: Saling menjaga / memperbaiki (keadaan) kampung halaman masing-masing.
Namun bagi seseorang, kepanjangan MARTABE tidak seperti yang kita ketahui selama ini, sedikit dipelesetkan menjadi MARSIPATURE BABANA BE, yang memiliki terjemahan bebas kedalam bahasa Indonesia: Saling menjaga / memperbaiki mulut (ucapan) masing-masing.
Kalimat tersebut saya baca pada kaca belakang sebuah mobil mikrolet jurusan Kalideres (Jakarta) - Kutabumi (Tangerang), kemarin sore 29 Mei 2007, ketika saya pulang kerja dan terjebak kepadatan lalu lintas kota Tangerang.
Orang tersebut menuliskan kata MARTABE dibagian atas, lalu dibawahnya MARSIPATURE BABANA BE. Saya tersenyum ketika membaca kalimat tersebut, saya mencoba menganalisa dan masuk kealam pikiran orang yang menuliskan kalimat tersebut.
MARSIPATURE BABANA BE atau Saling menjaga / memperbaiki mulut (ucapan) masing-masing; sebuah kalimat sederhana namun memiliki makna yang sangat dalam.
Dalam renungan saya, saya membayangkan suatu kehidupan yang indah, harmonis, dimana setiap orang berlaku sopan dan saling menghormati kepada siapa saja, kapan saja dan dimana saja jika MARSIPATURE BABANA BE bisa dilaksanakan oleh siapa saja. Sungguh tentram dan damainya dunia ini.
Dalam rumah tangga, akan nyaman dan aman jika suami-istri, anak dan anggauta keluarga yang lain bisa MARSIPATURE BABANA BE - saya yakin kekerasan dalam rumah tangga bisa ditekan secara drastis.
Dilingkungan masyarakat, akan tercipta kehidupan yang harmonis dan saling menghargai sebagai sesama anggota masyarakat jika semua bisa MARSIPATURE BABANA BE.
Dikantor, antara atasan dan bawahan, antara sesama karyawan jika bisa MARSIPATURE BABANA BE, niscaya akan tercipta suasana kerja yang harmonis.
Dijalanan, akan terasa nyaman dan damai jika para pemakai jalan raya bisa MARSIPATURE BABANA BE, karena tidak akan kita dengar makian dan umpatan para pengemudi, terlebih jika terjadi senggolan antar kendaraan.
Betapa damainya suatu bangsa jika para pemimpinanya bisa MARSIPATURE BABANA BE, kerena tidak akan ada lagi yang saling menghujat diantara para pemimpin.

MARSIPATURE BABANA BE…, ya marsipature babana be…
Mari kerabat dan sahabatku kita renungkan dan kita laksanakan setiap saat pesan sederhana: Marsipature Babana Be, terlebih disaat kita hendak bicara kepada orang lain pada waktu kemarahan dan kekecewaan menghinggapi pikiran dan perasaan kita.
Karena dari mulut kita mengungkapkan pujian kepada Allah, dari mulut kita bisa keluar ucapan yang membahagiakan dan membangkitakan semangat orang lain; namun dari mulut kita bisa juga keluar kata-kata makian yang bisa menghunjam ke sanubari sesama kita dan menghancurkan orang lain bagai ribuan pisau yang menusuk ulu hati dan meninggalkan luka yang sulit untuk sembuh. Dan dari mulut yang sama juga keluar kata dusta dan tipu muslihat.
Raja / Nabi Soleman yang terkenal sangat bijaksana menuliskan dalam Kitab Amsal: “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan”. (Amsal 13:3)

Semoga pengalaman sedehana ini semakin meningkatkan kwalitas kepribadian dan kedewasaan kita.

MARSIPATURE BABANA BE ………… .

Salam kasih persaudaraan
JN. Wahyudi
Sumber :JN Wahyudi”