Siapa Penemu Lambang @ pada E-mail?
SAINS DAN TEKNOLOGI | 441 Views May 14th, 2007Siapa Penemu Lambang @ pada E-mail?
Surat elektronik atau electronic mail (e-mail) pertama yang berhasil dikirimkan antara dua mesin dilakukan oleh seorang insinyur pendiam, Ray Tomlison di BBN suatu hari di tahun 1972. Sebelumnya, Tomlison telah menulis program mail untuk Tenex, sistem operasi yang dikembangkan BBN, yang hingga sekarang masih beroperasi pada mesin-mesin PDP-10 ARPANET.

Selain itu, yang juga monumental adalah penemuan lambang @ pada e-mail yang kemudian digunakan orang di seluruh dunia.
“Karena saya yang pertama [menemukan], jadi saya bisa leluasa memilih pungtuasi yang saya inginkan,” ujar Tomlison. “Saya memilih lambang @,” ujarnya. Karakter ini, menurut dia, lumayan membantu karena mirip huruf a untuk address atau alamat lembaga pemilik e-mail yang dituju. Ia tidak menyadari betapa saat itu ia sedang menciptakan sebuah icon penting untuk jagat Internet.
Sumber: Katie Hafner, Matthew Lyon, Where Wizards Stay Up Late: The Origins of the Internet (New York: Touchstone Book, 1998)





July 4th, 2007 at 12:48 am
Mencuat Penyimpangan Milyaran
di BTN Cabang Purwakarta
Purwakarta - Bank Tabungan Negara (BTN) Cabang Purwakarta menjadi sorotan warga masyarakat terkait dugaan penyimpangan yang merugikan bank dan masyarakat dampak dari analisis kredit kepada PT Bagasasi Konstruksindo (BK) sebesar Rp17.000,00 juta kurang cermat ditangani. Sementara untuk fasilitas kredit sebesar Rp 4.350,00 juta kepada PT Langgeng Pranamukti Arta (LPA) juga belum sepenuhnya diawasi dengan baik.
Atas penyimpangan tersebut, warga berharap agar Kejaksaan Negeri Pemkab Purwakarta secepatnya menindak lanjuti hasil temuan tersebut karena pemeriksaan ulang adalah hak kejaksaan sehingga transparansi nyata diketahui publik.
Kepala Cabang BTN Purwakarta, Hulmansyah ketika ditemui wartawan tidak bersedia menerima. ” Maaf sekarang bapak tidak bisa ditemui karena sedang sibuk menerima tamu. Anda sebaiknya menemui Assistant Manager Cabang BTN Purwakarta Richard Pasaribu, “tegas salah seorang staf. Ricard ketika ditemui tak bisa memberikan penjelasan. ” Saya tidak bisa mengkomentari ini, maaf, “ujarnya Ricard singkat pada hari Rabu, (27/6) siang.
Keterangan yang berhasil dihimpun dari hasil pemeriksaan BPK adalah sebagai berikut, PT Langgeng Pranamukti Arta (PT LPA) dengan modal ditempatkan sebesar Rp3.000,00 juta yang berkedudukan di Cikampek. Berdasarkan PK No.02 tanggal 5 Januari 2004, PT LPA memperoleh fasilitas KYG sebesar Rp4.350,00 juta untuk pembangunan 244 unit rumah pada proper Permata Mandiri Cikampek (PMC). Pada tanggal 1 September 2004, PK tersebut diaddendum sehingga plafond kredit menjadi Rp2.000,00 juta.
Outstanding pokok kredit kepada PT LPA per 5 Juli 2006 adalah sebesar Rp2.989,14 juta dengan kualitas Kurang lancar, sampai dengan jatuh tempo tanggal 30 September 2006 ternyata PT LPA tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada Bank BTN sehingga fasilitas kredit dinyatakan macet.
Menurut informasi Kantor Cabang Purwakarta dalam PAK Review, hal ini terjadi karena pengurus PT LPA melarikan diri karena adanya teror dari pihak ketiga. Teror tersebut terkait dengan kewajiban PT LPA kepada pihak lain. Dalam pemeriksaan berkas kredit kepada PT LPA diketahui hal-hal sebagai berikut, adanya indikasi penggunaan kredit untuk pelunasan hutang kepada pihak ketiga dan pemegang saham.
Selama rentang waktu 6 Januari 2004 s.d. tanggal 31 Juli 2004 PT LPA telah mencairkan kredit sebesar Rp3.870,85 juta, sedangkan dana yang telah dikeluarkan untuk biaya konstruksi adalah sebesar Rp2.319,56 juta, sehingga terdapat selisih sebesar Rp1.551,29 juta. Selisih tersebut memperlihatkan bahwa tidak seluruh fasilitas kredit digunakan untuk biaya pembangunan dan diduga digunakan untuk pelunasan hutang usaha dan hutang kepada pemegang saham.
Selain PT Langgeng Pranamukti Arta (PT LPA), BPK menemukan kejanggalan juga di PT Bagasai Konstruksindo (PT BK) melalui oustanding pokok kredit PT BK per 30 September 2006 adalah sebesar Rp11.762,46 juta. Kredit tersebut dijamin dengan agunan berupa tanah SHGB dan SHM dengan nilai taksasi total sebesar Rp 24.410,31 juta. Persetujuan fasilitas kredit kepada PT BK sebesar Rp.17.000,00 juta tidak didukung dengan ketersediaan pasar yang jelas. Hal tersebut berisiko terjadinya interfinancing antar perusahaan afiliasi maupun antar proyek.
Hal ini terlihat dari kondisi sebagai berikut : analisis pemberian kredit kepada PT BK tidak didukung dengan analisis risiko Sesuai dengan SE No.38/DIR/DPKK/2004 disebutkan pemaparan analisis kredit harus memuat aspek 5 C yaitu meliputi character, capacity, capital, collateral dan condition of economy. Dari penelitian terhadap dokumen kredit PT BK diketahui dalam PAK kredit awal dengan plafond sebesar Rp1.000,00 juta s.d. plafond sebesar Rp17.000,00 juta yang disusun oleh KC Purwakarta maupun oleh Kantor Pusat tidak membahas secara tersendiri
mengenai Analisis Aspek Risiko.
Sedangkan, persetujuan fasilitas kredit kepada PT BK sebesar Rp.17.000,00 juta tidak didukung dengan ketersediaan pasar yang jelas. Dari PAK yang disusun oleh Analis KC Purwakarta tanggal 5 Februari 2005 dalam rangka tambahan plafond kredit sebesar Rp12.000,00 juta hanya dijelaskan bahwa untuk perumahan yang akan dibangun telah ada 240 orang calon konsumen (tanpa menyebutkan berapa calon yang telah membayar uang muka) atau hanya mencapai 16,82% jika dibandingkan dengan rumah yang akan dibiayai sejumlah 1.427 unit.
Sedangkan dalam PAK Kantor Pusat (DPKK) tanggal 22 Februari 2005 hanya dijelaskan terdapat 240 calon konsumen inden. Hal itu menunjukkan bahwa pembiayaan proper TPR kurang memperhatikan ketersediaan pasar.
Dari pemeriksaan fisik proyek oleh Tim Pemeriksa BPK tanggal 8 Agustus 2006 diketahui dari 1.435 unit rumah yang dibiayai (menurut PK) ternyata yang telah terjual 23 sejumlah 664 unit atau baru mencapai 46,27% dari yang seharusnya, sedangkan KYG jatuh tempo tanggal 15 Agustus 2006.
Untuk fasilitas kredit kepada PT BK telah dua kali diperpanjang. Dalam PAK DPKK tanggal 22 Februari 2005 terlihat bahwa kredit yang pada awalnya sebesar Rp1.000,00 juta menjadi sebesar Rp6.100,00 juta telah 2 kali diperpanjang yaitu pada tanggal 5 Agustus 2004 dan 15 Januari 2005. Di dalam PAK dijelaskan bahwa seluruh rumah yang dibiayai telah terjual, namun masih outstanding sebesar Rp3.100,00 juta (belum dilunasi) karena hasil penjualan rumah yang telah dibiayai sebagian besar digunakan untuk pengembangan blok lain yang bukan dibiayai pada proper TPR. (tim)
September 5th, 2007 at 12:32 am
Riwayat Hariamau Menggganas Tapanuli
ADIK DIPENGGAL, ABANG DITEMBAK
Oleh : Cucunya, Rekson Hermanto Pasaribu
Pasangan suami - istri Raja Pandapotan Pasaribu dan Barita
Mopul br. L mempunyai dua anak laki laki yakni Raja
Johannes Pasaribu (Kepala Desa Suga - Suga Hutagodang,
Sibolga) dan Bongsu Pasaribu (Berpangkat Kapten - Komandan
Batalyon Harimau Menggganas Tapanuli). Keduanya gugur
dimedan perang untuk mempertahankan Kemerdekaan dibunuh
secara sadis oleh tentara kolonial belanda. Setelah
Indonesia merdeka, oleh negara keduanya diabaikan begitu
saja tanpa ada tanda saja.
Anak, Cucu dan para Veteran Indonesia yang ditinggal,
terus
berharap agar ada perhatian dari Pemerintah Pusat dan
Daerah untuk memberikan bantuan berupa Tugu
Perjuangan ditempat kelahiranya. Sebagai tanda jasa
atas kepahlawanan Pejuang
Nasional Kemerdekaan
Indonesia. Kalau tidak, Komandan Kesatuan Harimau
Mengganas atau Komandan Raund 1 / Sektor IV
Tapanuli sebagai Pejuang Nasional Sibolga, dipastikan akan
terus terlupakan.
Inilah riwayat beliau, kalau mengenal Maraden Panggabean
(Purn. Jenderal,
yang juga mantan Pangab di orde baru) beliau adalah
juga mantan seperjuangan Kapten Bongsu Pasaribu pada
zaman itu yaitu satu kesatuan di Kesatuan Harimau
Mengganas yaitu sebagai Komandan Sektor IV.
Sementara dr. Ferdinand Lumban Tobing ( Pahlawan
Kemerdekaan Nasional) zaman itu menjabat sebagai
Gubernur Militer Tapanuli.
Kalau belum tahu sejarahnya siapa Kapten Bongsu
Pasaribu seorang Pejuang Nasional dalam mempertahankan
Kemerdekaan Indonesia. Beliaulah orangnya yang
lehernya dipenggal (digorok) secara sangat sadis dan
tidak manusiawi oleh tentara Kolonial Belanda di
Harakka, Barus pada tanggal 3 Maret 1947 yaitu pada
saat pecah
angresi Militer Belanda ke II.
Jabatan Kapten Bongsu Pasaribu lainnya sebelum agresi
Belanda, yaitu pada zaman penjajahan Jepang. Beliau
telah membentuk Angkatan Pemuda dan beliau
menjabat sebagai Komandan Kompani yang namanya saat
itu adalah T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat). Sekitar
waktu satu tahun berjalan yaitu pada Tahun 1946, T.K.R
berubah nama (dilebur) menjadi namanya adalah T.R.I
(Tentara Republik Indonesia) hingga akhirnya
TNI.(Tentara Nasional Indonesia)
Riwayat Kapten Bongsu Pasaribu
KAPTEN Bongsu Pasaribu lahir diperkampungan yang
bernama Hutagodang yang jaraknya 25 kilometer dari
pusat Kota Sibolga (Tapanuli Tengah), anak dari
perkawinan pasangan Raja Pandapotan Pasaribu dengan
Ibunya bernama Barita Mopul br. L pada tanggal 15 Juni
1923. Pada zaman penjajahan Kolonial Belanda, sangat
jarang ada penduduk pribumi yang dapat duduk dibangku
sekolah. Bisa dikatakan hanya orang-orang
tertentu
saja atau anak Kapala Nagari dan para pedagang
rempah-rempah.
Apalagi untuk bisa mengenyam kejenjang sekolah H.I.S
(Hindia Indhise School) kota Sibolga. Rasanya tidak
mungkin. Tetapi beruntunglah Kapten Bongsu pada zaman
itu karena memiliki kakak yang bernama Raja Johannes
Pasaribu yang baik hati dan tidak mengenal menyerah
dalam memperjuangkan adiknya kandungnya itu agar
menjadi manusia yang terpandang di masyarakat karena
masuk sekolah H.I.S. Jika hanya berharap dari
pekerjaan orangtua yang sebagai petani rasanya tidak
tercapai.
Selain fisik. Beliau didukung pula dari materiil yang
mana kedudukan Raja Johannes Pasaribu pada zaman itu
(tanggal 3 Maret Tahun 1932), telah dipilih rakyat
Hutagodang sampai kepengangkatan diangkat menjadi
pejabat Kepala Kampung Hutagodang. Sehingga Kapten
Bongsu yang dikenal sangat pintar, berkepribadian
pemimpin dan memiliki bakat, membuat di sekolahnya
selalu
terdepan. Kepintarannya Kapten Bongsu juga
telah dibuktikan dengan tamat sekolah dari H.I.S
Sibolga untuk melanjutkan.
Selanjutnya dari H.I.S. Kapten Bongsu masuk sekolah ke
jenjang lebih tinggi lagi adalah pada Quick Shcool di
Tarutung (Tapanuli Utara) dan dari Quick Shcool beliau
juga tamat sekolah. Setelah mendapat persetujuan
kakaknya Raja Johannes, beliau merantau ke kota
kembang Bandung (Jawa Barat) untuk sekolah tentara
disana. Di Bandung beliau ternyata juga mampu masuk ke
Kadester Shcool, hingga bisa tamat. Selanjutnya,
setelah penjajah tentara Jepang masuk ke tanah air
Indonesia. Oleh sang kakak, Kapten Bongsu disuruh
untuk pulang kekampung halaman di Hutagodang
(Sibolga). Di Sibolga, tentara Jepang sangat
memerlukan tenaga prajurit yang berpengalaman tentara
untuk membantu. Maka saat itu Kapten Bongsu terpilih
dan oleh tentara Jepang dia dilatih menjadi tentara
Gygun dan hingga mulai menyandang pangkat
sebagai
Gyiusoi (Opsir). Singkat cerita berakhir penjajahan
Jepang di negara Indonesia. Pemerintah Republik
Indonesia di Jakarta melalui Presiden Soekarno Hatta
menyatakan kemerdekanya yang jatuh pada Tanggal 17
Agustus Tahun 1945.
Kapten Bongsu kembali aktif lagi berjuang yaitu pada
bulan Nopember Tahun 1945, beliau membentuk Angkatan
Pemuda se-kota Sibolga dan dibawah kepemimpinanya.
Saat itu Kapten Bongsu terpilih menjadi pejabat
Komandan Kompani 1 (satu) yang namanya saat itu adalah
T.K.R (Tentara Keamanan Rakyat). Sekitar waktu satu
tahun berjalan yaitu pada Tahun 1946, T.K.R berubah
nama (dilebur) menjadi namanya adalah T.R.I (Tentara
Republik Indonesia) dan Kapten Bongsu dipercaya
menjadi menjabat sebagai Komandan Batalyon II (dua).
Hingga akhirnya jabatan Komandan Batalyon II itu
diserahterima kepada bernama Marhasam Hutagalung.
Sementara itu Kapten Bongsu dipercayakan menjabat
sebagai pejabat Staf
Resimen III dengan Komandan
Pandapotan Sitompul.
Pada zaman itu. Di daerah seluruh Tapanuli telah
dijadikan menjadi satu Gubernur yang dipimpin oleh
Gubernur Militer bernama Dr. Ferdinan Lumban Tobing.
Sementara untuk pengamanan daerah - daerah keseluruhan
Tapanuli, itu dibagi atas berbagai Sektor pertahanan.
Puncuk pimpinan atau Komandan Sektor I itu dipegang
oleh bernama Bejo, meliputi kekuasaan didaerah Padang
Sidempuan (Tapanuli Selatan) wilayah di Muara Sipongi.
Sementara, Komandan Sektor II dipegang bernama
Belprit Malau meliputi kekuasaan didaerah Tarutung
(Tapanuli Utara), Komandan Sektor III dipegang bernama
Slamat Ginting meliputi kekuasaan didaerah
Sidingkalang (Tanah Karo), Komanda Sektor IV dipegang
bernama Maraden Panggabean meliputi kekuasaan di
daerah Sibolga /Aek Raisan, ( Purn. Jenderal masa orde
baru), Komandan Sektor S dipegang bernama Simanjuntak
dan MA Aritonang meliputi kekuasaan
didaerah Sibolga,
dan - Mobil Brigade bernama Sabar Gultom meliputi
daerah Poriaha.
Angresi Ke II Belanda
Pada tahun 1947, Negara Belanda kembali melancarkan
Agresi yang ke II di tanah air diseluruh pelosok
Indonesia. Untuk masuk ke daerah daerah termasuk
menjajah Kota Sibolga. Pejabat tertinggi di Tapanuli
waktu itu adalah Gubernur Militer Tapanuli bernama Dr.
Ferdinan Lumbang Tobing. Dr. Ferdinan Lumbang Tobing
bersama Komandan Sektor IV bernama Maraden Panggabean
(yang sekarang Purn. Jenderal di orde baru) langsung
mengistruksikan kepada semua Komandan Raund untuk
mengatur pengamanan didaerahnya masing masing.
Komandan Sektor IV Maraden Panggabean telah membagi
Sektor IV Tapanuli yang dipimpinnya. Maka Kapten
Bongsu Pasaribu yang menjadi satu satunya seorang
kepercayaan terpanggil dan menjadi Komandan Raund I
(kesatuan Harimau Mengganas) untuk daerah kekuasaan di
Sorkam dan Barus (Sibolga).
Sementara Sinta Pohan
ditunjuk sebagai Komandan Raund II untuk wilayah
kekuasaan diderah Bonandolok, Komandan Raund III
bernama Bangun Siregar untuk kekuasaan diwilayah
daerah Sibolga beserta S.M Simarangkir.
Komandan Raund IV bernama Parlindungan Hutagalung
ditunjuk didaerah Jalan Tarutung, Komandan Raund V
bernama Agus Marpaung untuk kekuasaan diwilayah daerah
Poriaha, Komandan Raund VI bernama Henneri Siregar
untuk wilayah daerah Jalan Tarutung, Komandan Raund
VII bernama Paul Lumban Tobing untuk wilayah daerah
Sibolga, Komandan Raund A sebagai pengawal Sektor IV
oleh P. Hasibuan, dan Komandan Sektor S, Majit
Simanjuntak dan M.A Aritonang untuk wilayah daerah
Sibolga dan Barus
Keberadaan tentara Belanda pada zaman angresi ke
II di kota Sibolga, itu bermula ketika mereka terlebih
dahulu melakukan penembakan - penembakan dari jarak
jauh melalui pantai lautan Sibolga dengan Kapal Y.T.I
Belanda.
Perlawanan sengitpun pecah dengan pasukan
tentara pejuang Indonesia hingga berminggu-minggu
lamanya. Namun karena alat persenjataan pasukan yang
pimpinan Maraden Panggabean terbatas. Pasukan itu
terpaksa bersembunyi di hutan untuk menyelamatkan
nyawa masing-masing.
Akhirnya tentara Kolonial Belanda dapat memenangkan
peperangan di Kota Sibolga dan memasuki sudut-sudut
kota melalui laut yaitu pada tanggal 24 Desember 1948,
itu setelah mereka memukul mundur para pasukan pejuang
kemerdekaan Indonesia. Kapten Bongsu Pasaribu dengan
pasukannya langsung ditugaskan oleh Komandan
tertingginya Maraden Panggabean zaman itu untuk
bergerak menjaga wilayah Barus dan Sorkam sekitarnya.
Beliau beserta pasukan berangkatlah menuju daerah
Sorkam melalui bukit-bukit hutan hingga meneruskan
perjalannya sampai ke Kampung Hutagodang di Kecamatan
Sorkam.
Kedatangan Komandan Kapten Bongsu dan pasukanya
disambut gembira oleh
rakyat Hutagodang. Beliau juga
menyempatkan diri mengunjungi rumah orangtuanya untuk
meminta doa restu dari ibunya. Selesainya dari
Hutagodang, pasukan itu kembali langsung pergi ke
perkampungan di Pisang Masak (Perbatasan
Hutagodang).Disana pasukan beliau membuat satu markas
pertahanan yang bernama Hubangan.
Dari tempat pertahanan Hubangan, oleh Komandan Kapten
Bongsu kembali mengatur semua pasukannya yang mana
nama pasukannya itu adalah Kesatuan Harimau
Mengganas atau disebut Raund I, Sektor IV.
Selanjutnya mereka menuju daerah Sorkam (kecamatan).
Karena disana beliau sudah mengetahui bahwa ada
keberadaan tentara Belanda. Adapun diantara
anggota-anggota kesatuan Hariamau Mengganas adalah
bernama, Majit Simanjuntak sebagai wakil, Humehe Rambe
(Pengatur Pertahanan).
Bernama Gontar Lubis sebagai ajudan dan Staff, Kanor
Samosir, Hombar Tambunan, Padet, Jaimi, Tanjung, Mian
Tambunan, Mauli Panggabean,
Bili Matondang, Ayat
Tarihoran, Panemet Pasaribu, Masin Panggabean, Fliang,
Kadi HT, Uruk, Mancur, Mancit, Krisman Marbun, Mahasan
Aritonang, Usia Pane, Salmon Nainggolan dan Kartolo
Pasaribu. Sementara untuk Seksi Perbekalan diantaranya
bernama, Dior Nainggolan, Raja Johanis Pasaribu,
Freodolin Purba dan Amit Simatupang yang ada di pasar
Sorkam.
Sementara pasukan tentara Belanda yang dipimpin
Komandan Van Hali datang dengan membawa tentara Nepis
termasuk Simurai dari Kota Sibolga dengan konvoi besar
yang hendak mau ke Sorkam untuk bermarkas. Itu setelah
mereka berhasil menguasai Sibolga. Sesampainya tentara
Belanda dikampung Gontingmahe atau sampai ditengah
pertengahan jalan.
Pasukan Komandan Kapten Bongsu menghadang atau
menghadapi perang dan terjadilah pertempuran I (satu)
yang sengit berbuntut menyebar sampai ke perkampungan
Parlimatohan. Tetapi disebabkan oleh kurangnya alat
persenjataan dan
sebaliknya tentara Belanda memiliki
senjata yang serba lengkap. Maka, Komandan Kapten
Bongsu memutuskan atau menginstruksikan pasukannya
untuk mundur dari peperangan. Karena kalau dipaksakan
akan banyak merenggut korban jiwa, hingga beliau
memutuskan untuk pulang ke markas pertahanan Hubangan.
Tekad Komandan Kapten Bongsu yang bulat dan hati
berkobar-kobar yang tidak merasa senang atas masuknya
penjajah ke daerah Sorkam. Apalagi pasukanya telah
banyak yang gugur akibat kalah dipukul mundur. Maka
Kapten Bongsu kali ini merubah strategi baru perang
dengan memperkuat mata mata. Beliau memerintahkan
seorang prajuritnya bernama Panemet untuk melakukan
tugas memata-matai ke Sorkam Kiri. Yang mana saat itu
Tentara Belanda telah membuat markas pertahanan
disana. Atas perintah tersebut, maka Panemet
berangkatlah sana ke Sorkam Kiri dengan berkedok
(menyamar) sebagai penjual ikan.
Prajurit Panemet (mata mata)
berhasil memasuki markas
rahasia pertahanan Belanda tersebut. Dari hasil usaha
itu, dia mengetahui jumlah pertahanan yang sebenarnya
disana di markas Belanda Sorkam Kiri. Dari hal
tersebut, oleh prajurit Panemet kembali pulang ke
markas mereka memberikan laporannya kepada Komandan
Kapten Bongsu. Komandan Kapten Bongsu yang mendapat
laporan anak buahnya itu, mengetahui ada kelemahan
musuh. Beliau langsung mengatur seluruh kekuatan
pasukannya serta membagi tugas-tugas pasukan yang
maksudnya untuk menyerbu markas dari berbagai penjuru.
Ada yang dari bukit-bukit perkampungan.
Pasukan Komandan Kapten Bongsu bergerak dimana waktu
itu sudah malam hari yaitu hari Senin sekira jam dua
belas menuju ke Sorkam Kiri untuk merebut markas itu.
Mereka untuk sampai ke markas di Sorkam Kiri, pasukan
Komandan Kapten Bongsu terlebih dahulu melalui
perbukitan kampung Sihunik, Sihapas dan Pananggahan.
Sesampainya di markas Belanda
sudah menunjukan sekira
jam 4 pagi atau saat itulah markas terkepung.
Terjadilah pertempuran hebat di Sorkam Kiri
mengakibatkan pasukan tentara Belanda banyak gugur,
yang kontan mereka terpukul mundur dari markasnya.
Peperangan itu tidak berlangsung lama, menyusul bala
bantuan tentara Belanda datang membantu pasukan Van
Hali dari markas besar di Kota Sibolga dan Pasar Barus
hingga kembali menduduki markas Sorkam Kiri. Sementara
pasukan Komandan Kapten Bongsu menarik pasuka kembali
ke pertahanan Hubangan. Selanjutnya oleh Van Hali dan
pasukannya balik mau menyerang markas pertahanan
Kapten Bongsu di Hubangan. Itu setelah mendegar
serangan facar yang banyak membunuh tentara Belanda.
Namun, kedatangan pasukan Van Hali lagi lagi gagal
menyergab pasukan Komandan Kapten Bongsu di markas
Hubangan. Karena rencana musuh sudah keburu tercium
oleh prajurit mata matanya. Begitu tentara Belanda
sampai di markas Hubangan,
dan tidak menemukan
seorangpun disana, dimana pasukan Komandan Kapten
Bongsu sudah tidak ada lagi. Oleh Komandan Kapten
Bongsu pada saat itu juga sudah memerintahkan
pasukannya pindah markas baru yaitu di Holbung Bagas
(daerah Sipea Pea).
Dari markas Holbung Bagas, Komandan Kapten Bongsu
kembali mengatur pertahannya. Atas kesetiaan dan
kesepakatan masyarakat sekitar Sorkam yang turut serta
mendukung perjuangan. Seorang penduduk Sorkam Kanan
bernama Amiludin memberitahukan kepada Komandan Kapten
Bongsu bahwa ada markas Belanda di sekitar Sorkam
Kanan. Mendegar itu beliau mengumpulkan pasukanya dan
langsung mengerahkan kesana karena mereka tahu bahwa
Pasukan Van Hali masih berada di bekas markas Hubangan
sebelumnya. Sesampainya, oleh Komandan Bongsu kembali
menyerang markas musuh di Sorkam Kanan dan berhasil
menyita atau merampas berbagai macam puncuk senjata
api dari tangan musuh yang saat itu jumlah musuh
tidak
seberapah jumlahnya yang lagi menjaga markas.
Ratusan senjata api yang berhasil dilucuti tersebut,
oleh pasukan Komandan Kapten Bongsu membawanya ke
markas mereka di Holbung Bagas. Sementara komandan Van
Hali sepeninggalan mengerebek markas Holbung mendegar
kabar itu, mereka sangat marah dan ketika itu juga
mereka melakukan operasi ke kampung kampung penduduk.
Sejak itulah Komandan Van Hali mengetahu nama dan
sepakterjang Komandan Kapten Bongsu Atau Komandan
Harimau Mengganas. Sehingga kalau ketemu dengan
penduduk, mereka selalu menanyakan dimana keberadaan
markas Kapten Bongsu.
Hingga suatu hari pasukan tentara Belanda berangkat
beroperasi ke kampung halaman atau kelahiran Komandan
Kapten Bongsu dikampung Hutagodang. Mereka mencari
para keluarganya yang diantaranya kakaknya bernama
Raja Johannes Pasaribu (Kepala Kampung), orangtua dan
family dekat lainnya. Namun karena para kelurganya
sudah
mengungsi terlebih dahulu setelah mengetahui
akan kedatangan musuh. Selanjutnya oleh pasukan
tentara Belanda disana melihat rumah rumah penduduk
kosong, mereka geram dan marah. Akibatnya mengadakan
pembakaran pembakaran rumah rumah. Salah satunya rumah
penduduk yang menjadi korban hagus terbakar adalah
rumah milik bernama Muda Pasaribu.
Dari markas Holbung Bagas, pasukan Komandan Bongsu
Pasaribu kembali memperkuat siasatnya dan kali ini
bergerak ke Simpang Tiga (nama pertigaan antara Pasar
Sorkam dengan Pahieme) karena disana mereka sudah
mengetahui bahwa musuh mau bergerak menuju arah Barus
(kecamatan) dalam konvoi besar dengan kendaraan Tank.
Maka sesampainya di simpang tiga pasukan Bongsu
Pasaribu terus berusaha menghadangnya hingga kembali
terjadilah pertempuran sengit selama beberapa jam.
Posisi tempur pasukan Komandan Kapten Bongsu yang
berada diatas bukit bukit, sementara pasukan tentara
Belanda
berada dijalan besar. Membuat pertempuran itu
menguntungkan. Oleh pasukan Komandan Kapten Bongsu
terus menghujani pelurunya dari bukit hingga musuh
terpecah belah dari pasukan karena tidak dapat lolos
untuk menerobos pergi ke arah Barus dan akhirnya
terjebak dijalan raya. Saat itulah pasukan Komandan
Kapten Bongsu terus terusan menghujani peluru dari
atas perbukitan.
Pertempuran kali ini yang terjadi disimpang tiga itu
termasuk yang terbesar karena telah ratusan pasukan
tentara Belanda, termasuk seorang Komandan operasinya
meninggal ditempat. Mayat tentara tentara yang tewas
dari pihak pasukan musuh diangkut pulang kembali ke
markas di Sorkam Kiri mereka oleh teman teman musuh
yang masih bertahan hidup dengan memakai alat angkutan
pedati. Hasil dari peperangan disimpang tiga telah
membuktikan akan kehebatan taktik perang yang dimilki
oleh pasukan Komandan Kapten Bongsu.
Selanjutnya pasukan Komandan Kapten
Bongsu juga
kembali ke markas di Pahieme dengan membawa
kemenangan. Disana beliau kembali menyusun stategis
dan para pasukannya sempat mengadakan acara pesta
kemenangan yang mendapat sambutan meriah dari penduduk
Pahieme. Setelah tentara Belanda kembali mendapat bala
bantuan tentara lagi dari markas pusat di Kota
Sibolga. Musuh berencana lagi meneruskan untuk
bergerak menuju arah Barus.
Tapi rencana itu lagi lagi diketahui oleh pasukan
Komandan Kapten Bongsu yang segaja menyuruh seorang
disana untuk memata matai dari jalan daratan atau
perbukitan. Setelah mendapat pengaduan bahwa pasukan
Tentara Belanda yang sudah mendekat yang datang dari
jalan raya. Pasukan Komandan Kapten Bongsu dibantu
oleh rakyat dari Pahieme juga mengerahkan semua
pasukannya untuk mencegatnya. Maka, saat itu pasukan
beliau ramai ramai datang ke jembatan penyemberangan
yang bernama Jembatan sungai Mudo dan menghancurkanya
sampai terputus
agar tentara musuh tidak bisa melintas
ke arah Barus.
Konvoi pasukan tentara Belanda yang datang dengan
mengenderai kendaraan Tank, dicengat pas sampai di
Jembatan sungai Mudo. Hadangan terus dilakukan dengan
melancarkan tembakan tembakan. Maka terjadilah
pertempuran hebat pada malam hari itu. Dari kedua
belah pihak kembali banyak yang gugur. Namun, pada
akhirnya tentara Belanda dengan perlengkapan senjata
yang modern itu tidak bisa lolos. Mereka berhasil
kabur menyeberangi daratan dan perjalanan konvoi
diteruskan lagi kearah tujuannya di markas Pasar
Barus.
Sesampainya pasukan tentara Belanda di Pasar Barus,
disana mereka membentuk Tangsi dan markas
Pertahanannya yang besar. Sementara pasukan Komandan
Kapten Bongsu juga kembali memindahkan markasnya dari
Holbung Bagas ke kampung di Aek Raso (daerah dekat
Barus). Disana beliau mengatur pasukan dan selanjutnya
pasukan itu bergerak menuju daerah Barus
karena di
Barus saat itu sangat kekurangan tenaga pasukan dalam
menghadapi tentara Belanda.
Mendapat panggilan tugas kesana, berangkatlah pasukan
Komandan Kapten Bongsu kesana yang dimulai dari
perkampungan bernama Siharbo. Tetapi belum sampai ke
Barus, diperkampungan Barung Barung (Pasaribu Dolok)
yang mau menuju markas Belanda di Pasar Barus. Mereka
disambut hangat oleh masyarakat dan Kepala Nagari yang
bernama Alimusa Matondang dan dia diminta agar
menyempatkan waktunya untuk menginap atau bermalam
dirumahnya.
Disana rakyat beserta pasukan Komandan Kapten Bongsu
mengadakan pesta adat. Selama acara pesta berlangsung,
tentara Belanda yang ada di Barus keburu mengetahui
keberadaan beliau dan rencana tujuannya yang hendak
menyerbu markas Belanda di Barus. Maka oleh tentara
Belanda keburu mendahului bergerak dengan operasinya
mulai dari Sihorbo hingga ke Purbatua dan Batu Landit.
Musuh yang berada
diperkampungan Batu Landit sudah
keburu mengadakan siksaan terhadap rakyat dan membunuh
lebih sepuluh orang warga Batulandit.
Setelah Komandan Kapten Bongsu mengetahui banyak warga
penduduk yang gugur ditangan musuh. Beliau
memerintahkan pasukanya bergerak kesana dan
meninggalkan pesta yang di Barung Barung menuju
Purbatua dan Batulandit. Sesampainya di Batulandit.
Pasukan Tentara Belanda sudah keburu pergi dari situ.
Akhirnya Komandan Kapten Bongsu memutuskan untuk
mengadakan pengawalan (penjagaan) acara penguburan
mayat tersebut agar berlangsung aman. Beliau yang
memimpinnya yaitu mulai dari mengali tanah hingga
mengangkat para mayat.
Setelah selesai melakukan acara penguburan warga.
Komandan Kapten Bongsu memerintahkan pasukanya untuk
melanjutkan perjalanan gerilya ke Penanggahan dan
dirumah yang bernama Ompu Pentas Simatupang, mereka
disediakan tempat untuk markasnya. Dari tempat
tersebutlah, beliau
bergabung dengan pasukan Sektor S
yang Komandanya Simanjutak dan Komandan Raund III
Bangun Siregar untuk menyusun penyerangan gabungan ke
markas besar tentara Belanda di Pasar Barus.
Pasukan gabungan itupun berangkat ke Kota Barus.
Singkat cerita sesampainya disana. Maka terjadilah
pertempuran yang sengit. Pasar Barus menjadi lautan
darah karena telah banyak tentara gugur dikedua belah
pihak. Tetapi gabungan pasukan itu sempat menduduki
sampai merebut sebagian persenjataan di markas Pasar
Barus, itu setelah tentara musuh meninggalkan tangsi
akibat terpukul.
Namun, pasukan gabungan itu bersembunyi dihutan hutan,
menyusul pasukan tentara Belanda yang dipimpin Van
Hall kembali menyusun serangan dari lautan yaitu dari
kapal Y.T.I Belanda. Dari kapal laut mereka terus
menembaki tanpa melihat sasaran tembaknya. Serangannya
yang tidak berprikemanusian itu telah mengenai banyak
penduduk sipil yang gugur. Selain dari
laut, musuh
juga bantuan tentara dari pesawat tempur yang terus
menjatuhkan rudalnya. Pasukan Komandan Kapten Bongsu
yang mendapat serangan udara, dia memerintahkan
pasukanya mundur ke markasnya di Penanggahan.
Selanjutnya pasukan tentara Belanda akhirnya dapat
menduduki dan menguasai Pasar Barus kembali. Bahkan
musuh semaki gencar mengadakan operasi-operasi ke
kampung-kampung penduduk. Namun, ketika Pasukan
tentara Belanda kembali mau datang menuju arah
Sihorbo. Ditegah jalan yaitu dikampung Batumarinding,
pasukan dari Komandan Bongsu kembali melakukan
pencegatan dan terjadilah perlawanan. Perlawanan itu
membuat para tentara Belanda terpaksa mundur lagi
kembali ke markasnya di Pasar Barus.
Karena selama operasi operasi ke kampung kampung
yang gencarkan dilakukan pasukan tentara
BelandaTentara Belanda sering dipatahkan oleh pasukan
Komandan Kapten Bongsu. Maka oleh Belanda memperkuat
banyak mata mata (
kaki tangan) yang tersebar di
Tapanuli. Untuk didaerah Barus dan Sorkam, mata
matanya bernama Tajim Sitanggang yang berasal dari
Polisi Belanda.
Namun beliau juga mengetahui bahwa Tajim Tanggang
terlibat jadi mata mata. Maka oleh Komandan Kapten
Bongsu memerintahkan beberapa pasukanya untuk memburu
Tajim. Hingga suatu hari Tajim berhasil disergap
dirumah penduduk. Tajimpun dibawa ke markas untuk
mengadakan pemeriksaan. Disana Tajim diancam yaitu
diberikan keputusan hukuman yang isinya kalau ketahuan
berbuat lagi, saya akan melakukan hukuman nyawa
harus dibalas dan diganti nyawa, kata Komandan
Kapten Bongsu.
Tetapi dimarkas tidak diberikan hukuman melainkan
hanya janji saja kepada Tajim. Yang maksudnya agar
Tajim mau bertobat dan ikut bergabung berjuang
membantu perjuangan mengusir musuh. Rupanya peringatan
itu tidak digubrisnya atau tidak diperdulikan. Bahkan
Tajim malahan melarikan diri dan ikut
bergabung lagi
dengan pasukan tentara Belanda di Pasar Barus.
Ironisnya semakin rajin ikut dalam setiap operasi
Tentara Belanda sebagai petunjuk jalan.
Pada saat pasukan tentara Belanda melakukan operasi ke
Bukit Hasang (kecamatan Barus) bersama sama dengan
Tajim sebagai penunjuk jalan. Para Komandan beserta
pasukanya yang diantaranya Komandan Sektor S yang
bernama Majit Simanjutak dan P Hasibuan dibantu oleh
Komandan Raund III bernama Bagun Siregar dan pasukan
Komandan Kapten Bongsu mengetahui itu. Pasukan
gabungan itu kembali berangkat kesana mereka melakukan
pencegatan di tegah jalan hingga kembali pecah
peperangan besar.
Pertempuran atau peperangan selama satu hari satu
malam membuat para tentara Belanda sempat kocar kacir
terpisah dari pasukanya dan sebagian tidak tentu arah
pelarianya. Waktu peperangan yang terjadi pada malah
hari itu sangat menguntungkan pasukan gabungan hingga
membuat sebagian
lagi musuh terpaksa kabur dari
peperangan dan lari menaiki pegunungan menuju ke
kampung Purbatua dan banyak juga yang lari ke didaerah
perkampungan Harakka (Panguhalan Rihit).
Di kampung Harakka oleh pasukan Komandan Kapten Bongsu
terus melakukan pengejaran hingga terjadilah
pertempuran yang dimulai sejak pagi hari sekira Jam 9
sampai siang jam 12. dari ke dua kubu yang sedang
bertempur, dapat dikatakan pasukan musuh banyak sekali
yang tewas. Bahkan musuh tidak berkutik sama sekali
yang akhirnya sebagian terus melarikan diri
menyelamatkan nyawa masing masing karena tidak
mempunyai daya lagi disebabkan kekurangan perbekalan
maupun peluru senjata.
Peperangan itu sudah selesai dan tidak ada lagi suara
tembakan baik dari Komandan Bongsu, maupun Belanda.
Oleh Komanda Kapten Bongsu mengirah semua tentara
musuh sudah gugur dan tidak ada lagi yang hidup
kecuali yang melarikan diri. Maka Komandan Kapten
Bongsu
beserta dua orang prajuritnya memutuskan untuk
melihat para mayat yang bergelimpangan. Beliau turun
mengadakan operasi pembersihan yaitu memeriksa satu
persatu mayat tentara musuh akibat dari pertempuran
yang hebat itu.
Rupanya terkaan Komandan Kapten Bongsu ternyata
meleset. Setibanya mereka disana, masih ada dua orang
lagi dari tentara Belanda yang masih hidup yang segaja
bersembunyi disatu kubangan bekas Kerbau. Dari
kubangan kedua tentara Belanda itu masih ditemani
Tajim Sitanggang (mata mata) Belanda. Melihat posisi
Komandan Kapten Bongsu yang sedang berjalan kaki dan
sudah sangat dekat dengan mayat. Saat itulah
kesempatan dimanfatkan oleh tentara musuh. Musuh yang
sembunyi di kubangan langsung melepaskan tembakan
kearah Komandan Kapten Bongsu.
Peluru senjata api yang dimuntahkan, dengan tembakan
bertubi tubi tersebut. Satu peluruh akhirnya mengenai
kaki Komandan Kapten Bongsu. Baliau
langsung
tersungkur ke tanah bersimbah darah. Tak puas dengan
sampai disitu, kedua tentara musuh kembali memuntahkan
peluruh dari senjatanya tepat mengenai kakinya lagi.
Tapi, Komandan Kapten Bongsu masih sempat mengadakan
perlawanan dengan membalas menembak dari senjatanya
tetapi tidak mengenai sasaran karena posisi kedua
tentara Belanda itu masih di Kubangan Kerbau.
Tidak berapa lama kemudia, menyusul satu tembakan lagi
mengenai badanya Komandan Kapten Bongsu, akhirnya
tidak bisa berkutik lagi. Melihat itu, salah seorang
Tentara Belanda berteriak menyuruh supaya Komandan
Kapten Bongsu menyerah serta mengangkat kedua
tangannya. Namun beliau tidak mau. Bahkan beliau
berkata, Sekali Merdeka Tetap Merdeka.
Pada saat itu. Tajim (mata mata) merasa senang dan dia
kembali memberitahukan kepada kedua tentara Belanda
itu, bahwa yang tertembak itu tidak lain adalah
Komandan Round I dari Kesatuan
Harimau
Mengganas, Kapten Bongsu Pasaribu. Selanjutnya
tidak berapa lama tentara Belanda menghampirinya.
Tangan Beliau ditendang serta merampas senjatanya.
Tak puas dengan penyiksaan kedua tentara beserta
Tajim. Mereka akhirnya mengakhiri hidup Komandan
Kapten Bongsu dengan cara yang sadis dan tidak
manusiawi yaitu dengan memenggal lehernya sampai putus
dimana waktu itu pada tanggal 3 Maret 1947. Kepala
beliau terpisah dengan badan, lalu diangkat dibawa
pergi ke Pasar Barus oleh musuh untuk dipertontonkan
kepada rakyat Indonesia. Badannya yang masih
tergeletak ditanah sengaja ditinggal tergeletak begitu
saja tempat asal dibunuh.
Melihat kepala Komandan Kapten Bongsu sudah dipegang
tentara musuh. Musuh yang lainnya yang berada dimarkas
Barus dan Sorkam sangat gembira mendegar kabar itu.
Dimana Komandan Kapten Bongsu yang selama ini sangat
ditakuti dan dikagumi oleh tentara Belanda. Singkat
cerita,
setelah Belanda pergi ke Barus, potongan badan
yang lainya yaitu potongan mulai dari leher ke kaki
yang masih tergeletak dihutan dijemput oleh pasukan
beliau dan dibawah ke kampung Sijungkang, disana
potongan badan itu dikuburkan.
Sementara tentara Belanda yang bermarkas di Barus
masih terus mempertontonkan potongan kepala Komandan
Kapten Bongsu kapada para rakyat dan kepada para
tahanan. Yang maksud untuk melemahkan perjuangan
pasukan Indonesia di Pasar Barus agar girilyanya
melemah. Potongan kepala ditenteng dalam karung itu
dimulai markas di Harakka sampai ke Kota Barus. Pada
hari yang ketiga, potongan beliau dikuburkanlah di
Komplek penjara Barus.
Setelah Bongsu Pasaribu gugur pada tanggal 3 Maret
1949. Maka puncuk pimpinan sebagai Komandan Round I
akhirnya dipegang sementara oleh Humahe Rambe dan
kemudian diganti kepada Muliater Simatupang. Walaupun
Komandan Kapten Bongsu telah gugur di tangan
tentara
Belanda. Namun tentara belanda masih terus melakukan
penyelidikan dan pencarian para keluarganya termasuk
kakak kandungnya yang bernama Raja Johannes Pasaribu.
Raja Johannes Pasaribu yang ditargetkan sebagai
sasaran kedua sudah diketahui keberadaanya yaitu
selaku kepala Kampung di Hutagodang yang juga
jabatannya merangkap pada seksi perbekalan. Maka
pasukan tentara Belanda yang berada di markas Sorkam,
langsung mengadakan operasi ke kampung Hutagodang dan
sekitarnya. Adapun Raja Johanes Pasaribu turut
mengembangkan perjuangan tentara dan beliau dipilih
menjadi kepala Kampung Hutagodang yang pelaksanaan
pengangkatannya yauitu pada tanggal 21 Mei 1932. Dia
orang yang pertama membuka Kampung Hutagodang serta
membuat namanya.
Pada hari Senin Tanggal 11 Maret 1949, disaat Raja
Johanes sedang melihat ternaknya di Hutagodang.
Sementara penduduk lain sudah mengungsi ke hutan. Dia
akhirnya tertangkap
juga dan dibawa ke markas Belanda
di Sorkam Kiri. Bahkan pada hari penangkapan. Seorang
adik kandung isterinya bernama Pongsiu Pohan turun
menjadi korban dan ditembak saat itu.
Sementara di markas Belanda, Raja Johannes diperiksa.
Beliau diketahui oleh Belanda dia adalah kakaknya
kandung dari Komandan Kapten Bongsu yang ikut
berjuang. Maka tentara Belanda menginterogasi dengan
cara menganiaya selama dua hari dua malam di Sorkam
Kiri. Kemudian pada hari Kamis Tanggal 14 Maret 1949,
tentara Belanda membawa Raja Johanes dengan
mengendarai mobil pergi ke simpang tiga jalan Pasar
Sorkam hingga sampai ke Pahieme.
Sesampainya di Pahieme Johanes dia diturunkan dari
dalam mobil. Mengingat atas pertempuran pertempuran
yang sangat sengit ditempat tersebut yaitu simpang
tiga. Yang telah banyak tentara Belanda yang gugur
akibat pertempuran yang dilakukan oleh adiknya,
Komandan Kapten Bongsu. Raja Johanes akhirnya
ditembak
tepat dikepalanya dan gugur pada tanggal 14 Maret
1949.
Melihat mayat Raja Johannes tersungkur ditanah tidak
bernyawa. Rakyat kampung Pahieme ramai ramai menculik
mayatnya dan membawanya ke Kampung Pahieme, diteruskan
ke Kampung Sipea Pea. Dari Sipea Pea dengan melintasi
jalan hutan dia dibawah ke tempat pengungsian
keluarganya dikampung Sibira.
Pada hari Minggu tanggal 17 Maret 1949, jenazah
almarhum Johanes Pasaribu dimakamkan didaerah Lobu
Hutagodang. Pada acara pemakaman yang berlangsung
tersebut, masyarakat beserta istri dan sanak familinya
dapat menyaksikan. Bahkan para pejuang dari Sibolga
turut mengadakan pengawalan disana agar pelaksanaan
penguburan tersebut dapat berjalan secara adat.
Setelah Raja Johanes Pasaribu gugur. Beliau
meninggalkan isteri yang bernama Emper br Manalu
beserta lima orang anaknya yang bernama, Naimin br
Bondar, Ropina br Bondar, Bonar Pasaribu, Mutiara
br
Pasaribu dan Saut Pasaribu.
Setelah penyerahan kedaulatan Indonesia dari Belanda
tanggal 27 Desember 1949. Maka, keluarga dari Komandan
Kapten Bongsu dan Johannes Pasaribu kembalilah dari
tempat pengungsian yaitu pada tahun 1951. Sedangkan
Jenazah (kerangka) dari Komandan Kapten Bongsu
dipindahkan oleh Pemerintah. Badannya yang terpisah
yaitu, potongan badan dijemput dari Kampung
Sijungkang. Hingga akhirnya disatukan dengan kepala
yang telah dikuburkan Belanda di komplek Penjara
Barus. Setelah menyatu, Beliau dimakamkan di Taman
Pahlawan di Sibolga sampai sekarang.
Sementara itu Raja Johannes Pasaribu dan atas bantuan
dari para sanak pamily dan Pemerintah Kecamatan
Sorkam. Maka kerangka jenazah almarhum dapat
dipindahkan secara pesta Adat pada tanggal 10 Maret
1977. Pengankatannya turut hadir Camat Kecamatan
Sorkam bernama Syaim Panggabean BA, Koramil 135
Kecamatan Sorkam bernama F. Larosa dan juga
utusan
dari Bupati KDH Kabupaten Tapanuli Tengah.
Demikian sejarah perjuangan Nasional Indonesia yang
gugur sebagai pahlawan bunga Bangsa dalam merebut
Kemerdekaan Bangsa Indonesia dari tangan penjajah
Kolonial Belanda. Sejarah ini langsung diberikan oleh
anggota pasukannya dan para kelurganya untuk dikenang.
April 28th, 2008 at 11:48 pm
Ingin Kenalan.
Nama : Fardison Nadeak
Asal : Desa Sihorbo -Hutaginjang Barus
Alamat Sekarang : Bandung
April 30th, 2008 at 2:43 am
hai Fardison,senang berkenalan dengan mu,saya hotma br saragih,asal saya di pematang raya,sekarang tinggal di balikpapan.boleh ga saya minta alamta email kamu.horas!
May 4th, 2008 at 12:57 am
horas ma dihita saluhutna halak batak na adong di seluruh dunia onsai TUHANta namandongani hita diganup ingananta be gabe jala horas! jala au tinggal ditarakan-malinau KALTIM do molo naeng berhubungan boi do di hubungi tu nomor on 081332104447 manang e-mail golan.panda@yahoo.co.id thank’U