SELAMATKAN DANAU TOBA
BONAPASOGIT | 360 Views April 24th, 2007Danau Toba yang indah dan permai, “mambahen malungun saluhut nasa bangso” demikian syair dan lagu Nahum Situmorang merupakan pemujaan atas keindahan danau yang mengelilingi Pulau Samosir ini. Memiliki udara yang sejuk yang berpengaruh kondusif terhadap pertanian Padi, Palawija dan Peternakan di daratan sekitarnya
Danau Toba tempat mandi dan minum dan sumber hidup nelayan “partoba” barangkali akan menjadi kenangan yang tidak akan dirasakan lagi. Pencemaran Danau Toba saat ini menurut penelitian para pakar sudah dalam keadaan “kronis” dan membutuhkan perawatan yang serius.
Danau Toba yang dikelilingi 5 Kabupaten belum memiliki satu sistim terpadu untuk mengatasi segala gejala dan permasalahan yang terjadi. Gencarnya upaya promosi prawisata dengan mengandalkan panorama Danau Toba tidak seimbang dengan apa yang diberikan untuk pelestarian atau “penyelamatan” danau ini.
Bagi wisatawan mancanegara, keindahan tidak sekedar untuk diperoleh, akan tetapi partisipasi masyarakat untuk memelihara keindahan itu termasuk indikator ketertarikan bagi mereka, disamping budaya yang tidak sekedar dipertontonkan tapi ada dalam kehidupan masyarakat. Barangkali kita tidak sadar bila mereka berbisik dalam hati bahwa sungguh kita ini sangat tidak perduli akan rahmat keindahan yang kita miliki dan budaya kita yang kita hancurkan sendiri. Kegiatan kita hanya ingin menjual tanpa peduli bagaimana memeliharanya. Mereka juga punya mata dan mulut yang kita tidak mampu membatasi bisikan bahwa Danau Toba sudah tercemar dalam kondisi kronis.
Bagi masyarakat yang dulunya hidup layak saat ikan mujahir dominan di Danau Toba terpaksa mengalami nasib buruk setelah ada kebijakan tanam udang disana. Konon udang tidak meningkatkan pendapatan nelayan, justru menghancurkan. Kebijakan baru muncul lagi dengan menabur benih ikan yang disebut masyarakat “ikan begu” yang belum membawa arti penting bagi penghasilan nelayan. Pasar masih menginginkan mujahir yang gemuk dan lejat.
Kapitalisme perikananpun masuk ke Danau Toba, keramba menjamur memproduksi ikan yang pasarnya ekspor. Masyarakat nelayan kebanyakan tidak mendapat manfaat karena hanya mengandalkan sebuah sampan dan satu dayung ditambah jaring. Entah ikan apa lagi yang akan masuk ke perairan Danau Toba tanpa bertanya kepada masyarakat nelayan, apa sebenarnya yang mereka inginkan sehingga partisipasi mereka melestarikan Danau Toba meningkat
Kepedulian semakin hilang. Jala apung yang banyak menghasilkan limbah kotoran ikan yang terapung terlihat dipermukaan Danau Toba. Tumbuhan lumut menjadi subur, yang konon sangat menggangu bagi turis yang ingin menyelam. Pernah terjadi turis lokal mati hanyut karena kaki terbelit lumut. Bila kita memandang ke dalam perairan Danau Toba, kenyataan mencekam ini akan kita temukan disana.
Eceng gondok yang dapat diolah menjadi bahan industri kerajinan tangan belum tersentuh. Di satu pihak, enceng gondok mencemari Danau Toba, tapi manfaatnya dapat sebagai filter air. Namun menurut beberapa pemikir, eceng gondok akan seimbang bila angin memecah dan dialirkan ke sungai Asahan. Bila ditambah dengan pengelolaan eceng gondok untuk bahan kerajinan barangkali keseimbangan akan tercapai
Dengan adanya kebebasan perambah hutan dan pengusaha HTI di daerah tangkapan air Danau Toba, sungai-sungai sudah mengalirkan air keruh dan lumpur yang semakin lama akan mempersempit Danau Toba.
Ancaman besar bakan muncul setelah PLTA Renun dioperasikan. Inilah bukti ketidak pedulian antara teknokrat dengan penguasa terhadap Danau Toba. Disini teruji kemampuan kita untuk menghargai apa rahmat yang telah kita terima
Untuk Danau Toba, apa yang kita pikirkan? Apa yang harus kita lakukan?
Selamatkan Danau Toba sekarang juga ! ! ! !/kutip:pamita.wordpress.com




February 12th, 2008 at 6:36 am
Saya tidak menduga sama sekali tentang air D.Toba sekarang keruh dan berlumpur serta berlumut…Hal ini saya ketahui dari teman yang pulang ke Indo…berenang pun mereka takut2 hanya berenang di tempat jetek…Danau Toba ini harus di selamatkan….kalau tidak yang terimbas semua masyarakat sekitar.
Begitu juga mengenai harga2 barang tidak sesuai dengan apa yang di jual. Kita Batak saja komplain …apalagi wisatawan asing…mereka tidak komplain…tapi mereka jera datang.. Yang rugi adalah semua..masyarakat Parapat/D.Toba itu sendiri. Kebiasaan ini harus diperbaiki…