UAN yang digelar dan hasilnya telah diumumkan menuai badai pro kontra antara masyarakat dan pengelola pendidikan, betapa tidak pengumuman kelulusan menunjukkan “kualitas” sesungguhnya dari sebuah sekolah. Dari berbagai informasi media, banyak SMTA yang kelulusannya dari 80 hingga 100 persen, banyak pula sekolah yang siswanya tidak lulus 100 persen, alias tidak ada yang lolos dari UAN dan diterima pula di Perguruan Tinggi Negeri sebagai mahasiswa PMDK, sementara siswa yang tidak lulus rame-rame berunjuk rasa ke DPRD maupun ke Diknas dengan berbagai alasan dan mencari kambing hitam (yang sudah sulit dicari),dari UAN dituduh melanggar HAM, kelulusan siswa tanggung jawab guru dan sekolah hingga Wapres Jusuf Kala yang dikecam dengan statemennya bila ujian ulangan dilakukan maka Indonesia adalah negara kuli atau negara koruptor.

Ditengah gonjang ganjing, pro kontra, tuding menuding dan hiruk pikuk para pakar, pemerhati pendidikan soal hasil UAN dan tuntutan ujian ulangan yang belum jelas juntrungannya, adalah seorang siswa yang menangisi “nasib si miskin” yang tidak mungkin dirubah dalam sesaat.

Sejak memasuki SMA N Sipoholon, Ellys S yang orangtuanya bekerja sebagai petani/buruh tani di Sisordak Kec. Parmonangan, berusaha untuk menjadi siswa yang baik dengan belajar, walaupun ia sadar bahwa orangtuanya tidak mampu hingga ke perguruan tinggi, tetapi ia berusaha untuk membujuk orangtuanya agar tetap sekolah dan menyelesaikan dengan baik.

Ketika pengumuman telah terpampang, dia lulus UAN jurusan IPA dan informasi dari sekolah dia terpilih sebagai lulusan peringkat kedua se-Sumut yang diterima di Universitas Indonesia, dia dipanggil untuk berbicara langsung dengan seorang staf UI yang ketika itu datang untuk meminta data sekaligus mengundang untuk mendaftar langsung ke UI Jakarta. Kegembiraan berubah menjadi duka Ellys mencoba menyampaikan informasi kegembiraan kepada orang tuanya dan kakaknya yang sebagai tenaga honor di salah satu dinas di Tarutung, agar dia dapat berangkat mendaftar ke UI, sudah barang tentu harus tersedia perongkosan, uang kost sementara dan biaya lain yang dibutuhkan. Orang tua dan kakaknya menyatakan terus terang tidak sanggup, tidak ada uang dan harus dibatalkan. Ellys sadar sekarang bahwa memang pendidikan itu mahal, dengan rasa kesal yang mendalam dan tangis pilu yang tidak tertahankan, tanpa sadar dia berucap “Amang tahe hansitni napogos, molo pe iba, lulus, hape orang tua dang sanggup, eeh tahe dang marguna be…nasib-nasib, ia mampu iba, orangtua dang tolap”, maka Ellys pun dengan tangis dan kesal pulang kampung…mungkin jadi petani miskin!

Sang kakak, berusaha mencari jalan keluar untuk membantu sekadar biaya perongkosan, namun disadari kembali andai mendaftar dan diterima UI, bagaiana kelanjutannya…dari mana dana, sementara UI yang sekarang diketahuinya sudah menjadi BHMN tidak menerima mahasiswa miskin! Yah, sudahlah, pasrah saja pada nasib…toh mencari orang yang rela membantu juga akan sulit ya kan Allys…tabahma ate…. (Ronggowarsito,Tarutung/kutip :bonapasogit.tv