TAK ADA YANG pernah menyangka, gadis cilik yang kala itu tinggal di daerah Pulomas Jakarta Timur, bakal menjadi sosok penyanyi bersuara lantang. Tidak ada yang pernah menduga, kalau gadis kecil yang kerap diledek dengan panggilan ’si suara soang’ itu, kelak, bakal menjadi penyanyi profesional. Malah, gadis cilik itu akhirnya menjadi kampiun festival nyanyi tingkat dunia.

dewimarpaung
Kita, memang tak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kita. Dan ketika gadis cilik bernama lengkap Novita Dewi Sri Rejeki Marpaung itu menjadi perempuan dewasa dengan suara bagus, bisa jadi teman-temannya atau tetangganya yang dulu kenal, akan terperangah. Mengapa? Bagaimana tidak, cewek yang kini dikenal dengan Dewi Marpaung itu tu nyaris kehilangan suaranya ketika kecil. Malah ada yang menyebutnya nyaris bisu. Kok?

Suatu ketika, Dewi yang ketika itu baru berumur 2 bulan, terserang penyakit panas. Suhu badannya sangat tinggi dan membuat orangtuanya kelimpungan. Dan benar, kemudian Dewi mengalami kesulitan bicara. Terhitung sejak umur dua bulan itu Dewi seperti orang bisu yang hanya bisa memberikan isyarat saja kalau sedang ingin sesuatu.

Kisah unik lain dari penyanyi ini, suatu ketika Dewi Marpaung terjerembab dikolong bawah tempat tidur, dan orang tuanya tidak mengetahui sehingga mereka kebingungan serta menyangka Dewi hilang diculik orang karena sudah kemana-mana tidak ditemukan, oleh sebab itu mereka melaporkan polisi. Dewi bisa ditemukan ketika salah satu Pamannya istirahat di tempat tidur tersebut dan mendengar seperti ada suara anak anjing, pamannya penasaran dan mengintip ke kolong tempat tidur, ternyata suara tersebut Dewi, yang sedang berusaha keluar.

Sampai usia 6 tahun, Dewi nyaris tak bisa berkomunikasi. Sampai kemudian ada “miracle” terjadi. Dewi bicara lancar, seolah tak pernah terjadi sesuatu. Tak cuma itu, Dewi langsung menunjukkan ada kelebihan di suaranya. Bakat menyanyinya seolah muncul semua saat itu. “Kami semua hanya bersyukur pada Tuhan, karena itu semua tidak pernah kita duga,” terang cewek berdarah Batak yang tidak bisa bahasa Batak. “Di rumah jarang pakai Bahasa Batak sih,” ucapnya sambil terkekeh ketika ngobrol panjang lebar dengan TEMBANG.com di sebuah restoran di Plasa Semanggi Jakarta.

Bakat menyanyinya memang tak lepas dari darah seni orangtuanya. Ayahnya, Jack Marpaung terhitung penyanyi Batak legendaris yang tergabung di Trio Lasidos. Trio ini terdiri dari Bunthora Situmorang kini DR (HC), Jack Marpaung dan Hilman P. Situmorang. Popularitas Trio Lasido’S yang didirikan tahun 1976 ditandai dengan album perdana “Lupahon ma”, nama Trio Lasido’s jadi trend di tanah air, sebab Trio yang satu ini tidak hanya merilis album Pop Batak juga Pop Indonesia bahkan Trio Lasido’s telah melanglang buana ke berbagai negara di muka bumi ini untuk show menampilkan lagu-lagu internasional yang sohor.

Tak heran, kalau Dewi kemudian “kejatuhan” bakat yang luarbiasa di dunia tarik suara ini. “Tapi Papa paling anti kalau saya mendompleng atau nebeng nama besar beliau,” cerita Dewi sambil melirik sang ayah yang menemani wawancara.

Festival demi festival dijalani oleh Dewi. Tak semuanya menjadi kampiun memang. Tapi paling tidak mengasah teknik vokalnya kian matang. sampai akhirnya muncul keinginan untuk menjadi penyanyi profesional. “Dari SMP saya sudah bermimpi jadi panyanyi profesional, tapi baru SMA keingian itu bisa terwujud,”kenang Dewi tentang karir nyanyi profesionalnya.

Seperti layaknya anak remaja yang bersemangat, Dewi tak bisa langsung menjadi profesional penuh. “Aku dilarang Papa untuk terjun secara full. Baru diijinkan setelah kuliah,” tambah pemenang Grand Prix Christmas Award 2004 silam.

Ketika kuliah itulah, Dewi seperti menemukan “saluran” untuk menuangkan bakat bernyanyinya. Dewi kemudian memilih menjadi penyanyi band di beberapa kafe di Jakarta. “Banyak kafe yang pernah saya isi,” ujarnya sembari menyebut beberapa kafe terkenal di Jakarta.

Sayangnya kehidupan malam di kafe, ternyata tak terlalu cocok buat perempuan yang sering terjun ke pelayanan rohani ini. “Akhirnya saya mundur dan memilih meneruskan kuliah, meski ada juga tawaran-tawaran untuk membuat album,” sambungnya. Pilihan ini memang berat, karena seperti “dicabut” dari akar bermusiknya. “Tapi ternyata ada pelajaran lain yang saya ambil, saya lebih siap secara mental untuk menjadi penyanyi profesional,” tegas Dewi mantap. Dewi juga merasa beruntung, punya keluarga yang selalu mendukung apapun yang dilakukannya.

Di dunia hiburan lokal, nama Dewi memang tak banyak dikenal orang. Padahal, melihat prestasinya, cewek kelahiran Jakarta, 15 November 1978 ini, cukup untuk bisa dibilang berbakat. Dia pernah menjadi Juara 2 Cipta Pesona Bintang, Juara I Weekly Champion Asia Bagus and Second Week. Kemudian juga Juara I Festival Suara Remaja Vinolia di RCTI. APa yang kurang?

Sampai akhirnya namanya masuk pantauan Chris Pattikawa, seorang pemandu bakat kondang. Ketika itu Dewi diminta untuk mejadi wakil Jakarta dalam Christmas Award 2004. “sebenarnya saya menolak karena saya tidak pernah ikut audisi, tapi entah kenapa Om Chris memilih saya untuk ikut,” kenang mahasiswa sastra Inggris UKI Jakarta ini.

Dan benar, kemenangannya di ajang tersebut menimbulkan “suara tidak sedap” yang cukup santer. Dewi dituding sudah diplot menjadi pemenang. “Saya tidak pernah menanggapi hal-hal seperti itu,” ucap Dewi yang mengaku baru mendengar isu-isu seperti itu.

Isu boleh berkembang, tapi toh Dewi Marpaung tetap melaju. Menjadi pilihan [dari 3 orang kandidat] untuk mewakili Indonesia di Astana International Song Festival 2005 di Kazakhtan membuatnya makin merasa yakin tentang pilihannya bermusik.

Bicara soal pengalamannya di Kazakhtan, ternyata cukup menarik juga. Selalu ada cerita unik di balik sukses penyanyi yang melanjutkan tradisi sukses artis Indonesia di event festival internasional. Sebelumnya ada Ruth sahanaya, Trie Utami, An Three, Shakila, Eka Deli, Glenn Fredly atau Antero Boys.

Di Kazakhtan, Dewi musti bersaing dengan 12 peserta dari Amerika, Eropa dan Asia. Dengan membawakan lagu ” Omir Ozen” ( Lagu asli Kasakhstan ) yang telah digubah liriknya oleh Marijati Soewarno dan diberi judul” Tanpa Cintamu” dan Aransement ulang oleh Younky Soewarno, ternyata sambutannya luar biasa. Bahkan Pencipta Lagu Omer Ozen yang dibuatnya 30 tahun silam sangat kagum dan tidak percaya kalau lagunya ini bisa digubah menjadi lagu modern yang menurutnya sangat bagus.

Dewi menolak tudingan bahwa penyanyi festival tidak banyak yang sukses di dunia rekaman. “Kalau saya, tetap ingin jadi penyanyi rekaman, tapi yang punya prestasi juga. Saya lebih ingin menembus dunia internasional yang sesungguhnya,” jelas anak pertama dari empat bersaudara ini kalem.

Bicara soal rekaman, Dewi saat ini sudah dikontrak oleh salah satu label besar di Indonesia. “Saat ini saya sedang mengumpulkan materi untuk album saya,” terangnya. Meski mengaku lebih enjoy menyanyikan lagu soul, blues atau R&B, Dewi tidak bisa menolak ketika album perdananya nanti bernuansa pop. “Kalau kita sudah punya karya yang sukses, baru bisa memilih,” tukas anak pasangan Jack Marpaung dan Anita.

Dewi pernah punya pengalaman “pahit” dengan salah satu label besar tahun 1997-an. Ketika itu ada sekitar 1000-an penyanyi yang diaudisi dan Dewi satu-satunya yang terpilih. “Tapi ternyata tidak jelas, dan digantung. Akhirnya saya memilih untuk mundur saja,” terangnya sembari menolak menyebut nama label tersebut. “Pokoknya label yang cukup besar kok,” kilahnya berteka-teki.

Kini, Dewi Marpaung sudah menjadi salah satu penyanyi yang diperhitungkan bakatnya. Meski secara album, Dewi belum teruji, tapi siapapaun tak akan menyangkal, Dewi punya karakter vokal yang tidak bisa dibilang remeh. “Dulu, aku sering belajar vokal sama papa, sekarang papa yang aku ajarin teknik vokal,” ucapnya sambil terbahak.

Siapa sangka, nyaris bisu di masa kecilnya, ternyata malah mendapatkan talenta yang luarbiasa kemudian. Semoga sukses di “rimba musik” yang sesungguhnya…[joko/foto: dok-pribadi]